Tampilkan postingan dengan label Sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sukses. Tampilkan semua postingan
Mardigu Wowiek: BENTURAN PERMAINAN

Mardigu Wowiek: BENTURAN PERMAINAN

Sesekali menulis dari pengamatan intelijen boleh kah? Karena pura-pura tidak perduli bahkan belagak ngak tahu sering makan hati sendiri, ngak enak rasanya. Apa lagi bentuk tulisan di sosmed yang terkadang berlebihan ke satu sisi berpropaganda memberi kesan kebenaran hakiki di pihaknya.
Bisa menyesatkan loh propaganda berlebihan itu. Berlebihan karena ketidak tahuan lalu seakan menjadi kebenaran. Karena itu dalam tulisan kali ini sepertinya saya harus meminta izin nih, sekali lagi, izin loh ya, saya mengupas dari sisi yang saya tahu-tahu sedikit, kalau boleh dan berkenan loh ya.
Kita mau melihat Rohingya. bagaimana melihatnya? Dari kacamata mana melihatnya?
Bagaimana kalau dari kacamata global, dari kacamata hagemony, dari kacamata kepentingan. Kalau urusan begini saya makan sekolah dan makan bangku akademi yang panjang. Pinter sih belum tentu, tahu sedikit namun selama data valid atau benar ya boleh dong, bagaimana?
Kita mulai dari sebuah tulisan Samuel P.Hutington. Dia mengulas dalam "benturan peradaban," Ia menyatakan bahwa terbentuknya sebuah gagasan peradaban universal adalah gagasan Barat, dan secara langsung bertentangan dengan partikularisme dari sebagian besar masyarakat Asia.
Dalam wilayah politik perbedaan-perbedaan itu terwujud dalam usaha Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya dalam membujuk masyarakat lainnya untuk mengadopsi ide-ide Barat tentang demokrasi dan hak asasi. Sebuah pemerintahan demokratis modern berasal dari Barat. Ketika berkembang di masyarakat non Barat, hal ini biasanya merupakan produk dari kolonialisme atau pemaksaan Barat.
Poros utama politik dunia kemudian berkembang menjadi sebuah konflik antara Barat dan yang lainnya.
Korea Utara serta “Myanmar” merupakan dua negara ekstrim yang melakukan isolasi untuk melindungi masyarakat mereka dari penetrasi atau "korupsi" yang dilakukan Barat, dan berusaha keluar dari komunitas global yang didominasi Barat.
Alternatif kedua, negara bergabung dengan Barat, menerima nilai-nilai serta lembaga-lembaganya.
Ketiga, sebuah negara menyeimbangkan Barat dengan cara mengembangkan kekuatan militer dan ekonomi, bekerjasama dengan masyarakat non Barat lainnya melawan Barat, berusaha menjadi modern tanpa menjadi kebarat-baratan.
Inilah kacamata hagemoni.
Eit sebentar, ada kata “myanmar” di sana. Rupanya ada yang menyimpan hati lama nih sama myanmar. Ada yang akan bermain, siapa saja mereka ini? ini diluar “perintah” panglima myanmar yang melakukan serangan terhadap “kelompok” yang dikatakan menjadi “national treat” oleh myanmar.
kelompok siapa saja di sana? ada kelompok arsa yang berbasis islam, ada kelompok arkanan yang berbasis budha, ada kelompok kachin yang berbasis narkoba di dukung china. Konflik sejak abad ke 8 mau di mainkan dan menlu kita ibu retno terlihat salah baca nih.
Eh nanti dulu, apa kapisitasnya ini ibu ya kali ini di rohingya? Tahu akar masalahnya kah? Tahu siapa yang bermainkah? Tahu tujuannya bermain kah? Jangan-jangan kita terjebak di mainkan kepentingan yang lebih besar. Apa saja masalah di myanmar? Selain wilayah kaum stateless imigran bengal ini. ooh, ada gas myanmar untuk sisi barat china yang di jaga 3 negara yang mengarah ke china toh aliran gasnya.
Ada alur narkoba segitiga emas disana. Ada shadow goverment bermain di sana, ada shadow banking main disana. Dan siapa sih di belakang myanmar? Myammar junta militer berkuasa, kelompok karen main lama di sana, dan tahu-tahu noble laurette perdamaian bisa jadi pemimpin. Apakah dia pemimpn sebenarnya atau shadow leader saja? Puppet?
Kita jawab sebentar lagi ya. Lebih jelas pastinya jumpa darat. Namun ehhh, ada efek loh di indonesia. Nah ini harus di bahas.
Ternyata efek rohingya ada yang impor membawa “mainan” ini ke indonesia. Ini kok berbarengan ya? Ini ngak mudah loh melakukan “psikological warfare” seperti begini. Propaganda mengasosiasikan islam ada yang bawa ke indonesia sehingga menggerakan massa.
Siapa yang bermain? Siapa yang dimainkan? Untuk apa memainkannya? Mengapa sekarang?
Seperti dalam tulisan saya sebelum ini, “instability is a war game”, ketidak stabilan sebuah negara itu bagian dari permainan perang. Dan ada yang mainkan instability ini.
Dalam teori intelijen ini namanya “chaos strategy”. Memanfaatkan issue rohingya dan di counter dengan propaganda kepahlawanan retno ke myanmar. Ini istana salah baca sepertinya. Ini sebagaian sahabat kelompok islam dimainkan lagi tanpa faham untuk apa dan kemana arah si penunggang kuda ini sebenarnya. Bener loh, kok ya pas dengan rame freeport di tekan gitu loh?.
Baiklah, semoga kali ini saya salah lagi analisanya. Namanya juga sontoloyo, ngak pinter dan selalu ngeyel sok tahu. Tetapi kalau bener bagaimana?
Mardigu Wowiek: BOLA KERAMAT JATUH

Mardigu Wowiek: BOLA KERAMAT JATUH

Bola dalam juggling bisnis yang tidak boleh jatuh atau bola keramat yang tidak boleh jatuh adalah bola yang bertuliskan kata PROFIT.
Jangan pernah menjatuhkan bola tersebut. Sekali jatuh akan berat terangkat lagi dan tersering usaha tutup.
SDM boleh ganti, system manajemen bisa di ubah berkali-kali, bahkan produk bisa ganti, corporate action bisa ganti, bisa gagal, distribusi berantakan, kemasan jelek atau brand tidak terangkat angkat, semua tidak masalah, namun sekali profit jatuh, selesai.
Seperti halnya dalam performa BUMN saat ini. bayangkan sudah dimanja, di kasih proyek, di kasih prioritas bahkan monopoli, bahkan sekarang didiamkan saja oleh pemerintah mengurita sampai kusaha rakyat kecil, semua kerjaan jatuih ke BUMN atau BUMNisasi yang meyebabkan keringnya dana cash beredar di masyarakat yang mulai menggebuk kelas menengah.
Apa hasilnya?
Dalam laporan kementrian BUMN agustus 2017, pendapatan 118 BUMN merosot dari 2,116 triliun semester 1 2016 sekarang semester 1 2017 hanya 936 milyar!!! Laba dari tahuan 2016 semester 1 197 tiliun menjadi 87 triliun semester 1 2017.
Apa masalahnya? Karena mereka bukan entrepreneur, semua mental pegawai. Kita harus kritik keras semua direksi BUMN,kita harus pertanyakan kempuan mereka hingga kepucuk tertinggi, asli kita harus menantang entreprneurship mereka. Gajih besar, fasilitas selangit, prestasi?? Beeeehhh itu terbukti angka bicara!
Kalau saya jadi pemilik club bola, dimana pemainnya tidak bisa menciptakan gol di lapangan pertandingan, pelatihan dan manajernya terbukti tidak perform, saya jual tuh club. Bahasa lainnya, BUMN itu di go public khan biar di beli swasta.
Di bilang Negara ngak usah berbisnis masih saja ngak percaya. Swasta nasional jauh lebih bisa mengelola perusahaan dari pada Negara berbisnis.
Lalu di tambah lagi bercita-cita BUMN Negara ambil 51% saham Freeport lagi. Mengambil mayoritas yang seakan dengan mayoritas lebih berdaulat lebih menguntungkan. Terus propaganda pahlawan. Sekali lagi, dari mana kacamatanya bahwa tindakan mengambil Freeport oleh BUMN akan menguntungkan?
Kunci bisnis khan profit, jualan Freeport copper concentrate yang harganya “dimainkan”, apa ngak lihat bisa di lakukan transfer pricing dan lain sebagainya. Duh naïf bener ya.
Lalu BUMN mana yang ambil? SDM BUMN nya? Modalnya dari mana? terus memiliki mayoritas artinya Negara memberikan “souverign guarantee”, lah kok enak asing di kasih souverign guarantee. Gimana mikirnya sih ini? pernah bisnis ngak sih? Negrti ngak sih semua itu buah simalakama di pasang di sana sisi sama swasta, apa lagi swasta asing, amerika pula yang bajingan, rusak kalau naïf kayak begini ngelola Negara.
Jadi kembali kebola profit. Kelola BUMN kali ini menjelaskan satu hal, bola profit nya jatuh, dan berat naiknya lagi karena yang di juggling bertambah banyak bolanya, ada bola “national security”, ada bola “nation treat”, ada bola “survival of the nation”, ada bola “kedaulatan Negara”, ada bola “beban bunga dan pokok pinjaman Negara”, dan eehh ada bola di pentingkan sekali “bola 2019 harus berkuasa kembali”. 
Mardigu Wowiek: BELAJAR MASAK AIR

Mardigu Wowiek: BELAJAR MASAK AIR

Dalam bisnis hal yang paling penting adalah permodalan. Dan bagaimana membuat modal datang kepada bisnis kita?
Kita mengandaikan diri sekarang. Anda katakana seroang suami pengenten baru, dimana istri anda belum bisa masak. Lalu sang istri berkata, suamiku, bagaimana kalau dapur peralatannnya di lengkapi, juga di berikan dapur yang bagus, ada plus ada oven, ada kompor , ada utensil peralatan yang lengkap untuk masak. Pasti saya akan bisa masak dalam waktu cepat dan enak.
Sekarang menurut anda, kita pakai akal sehat saja untuk menjawab, ketika anda siapkan semua peralatan tersebut apakah sang istri bisa masak sesuai janjinya? Atau tetap tidak bisa masak dan mengandalkan pembantu atau mengandalkan jari-jarinya di depan smartphone nya yang terhubung dengan apps go-food.
Sekarang kita balik, suaminya sekarang berkata, istriku, kamu kalau sudah bisa membuktikan pandai di dapur dan bersemangat, pasti aku akan perbagus dapur dan menyediakan seluruh peralatan dapur.
Pertanyaan, berapa besar “chance” ketika benar istrinya bisa masak , sang suami benar akan menepati janjinya menyediakan peralatan dan merombak dapur agar keren dan lengkap?
Ternyata dalam statistic dari dua kasus diatas, ketika suaminya menuruti pesan istrinya dimana dapur lengkap dia akan bisa masak peluangnya sang istri bisa masak setelah dapur lengkap hanya 20% alias dari 5 istri yang di perlakukan seperti ini, hanya 1 yang bisa masak.
Namun disisi wanita membuktikan kemampuannya, dari 5 suami, 3 orang atau 60% memenuhi janjinya, memperindah dan memperlengkap dapur.
Mengapa demikian?
Secara psikologi pasti sudah bisa di tebak. Kita bahas khusus psikologi ini di tempat lain ya, agak panjang masalah ini di jelaskan karena harus mengunakan kisah pembuktian ekperimental .
Adapun tujuan tulisan kali ini adalah tentang mendapatkan modal bisnis.
Dalam proyek yang masih green field. Belum jalan, masih konsep, masih ide, belum komersial, atau kalaupun sudah jalan masih “skala lab”.
Maka modal akan sulit datang. Karena pemodal atau funder kalau tidak melihat asset kita, mereka melihat “revenue” atau turn over atau penjualan.
Jadi cara termudah mendapatkan modal sekali lagi, laklukan seperti sang istri yang dapur jelek, seadaanya tetap berusaha masak. Karena semakin sering kita masak, maka hukum “ala bisa karena biasa” tercipta.
Sementara green field company yang belum jalan sulit mendapatkan modal karena seperti kenyataan dapur yang lengkap, tetap saja tidak bisa masak. Bisnis yang serba lengkap, belum tentu jalan. Lebih baik, seadanya jalan, walau terseok, walau masak air gosong, tetap lebih baik. #peace

(Tulisan Pagi) “ Masalah?.. jangan di perpanjang, kan bukan STNK

Halo, nice to meet you juga, balasan sapaan ringan saya kepada kenalan baru. Kemarin saya mengadaan pertemuan yang saya memang sangat inginkan. Lebih di karenakan faktor perlu nya izin dan konfirmasi agreement dari sebuah perusahaan BUMN yang bernama PLN.

Dihadapan saya ada seorang wanita muda menjabat sebagai posisi manajemen madya di perusahaan tersebut di dampingin koleganya. Dari awal mengenalkan namanya lidahnya sudah memberikan nada bahwa dia berbahasa ingris bisa lancar karena logatnya ke barat-baratan.


Kalau kita berprasangka buruk ini orang seperti cinta laura tapi tidak selebay itu juga. Tidak berlebihan, santun dan pemilihan kata-katanya menunjukan ya memang aslinya begini. Yang setelah di skusi ringan saya mengetahui bahwa 10 tahun awal hidupnya memang berada di eropa mengikuti kerja orang tuanya. Di usianya 25 tahunan ke melayuan lidahnya belum terbiasa juga. Kayaknya makananya kurang banyak santan dan cabe kali ya, jadi belum melayu-melayu juga.

Tapi ngak juga seperti banyak anak-anak kaum borjuis yang sudah mulai karena sejak usia bayi, usia SD danSMP tiap hari berbahasa ingris dan bahasa ibunya bahasa indonesia jadi bahasa kedua. Agak lucu sih karena kita tahu kedua orang tuanya melayu, yang vocabulary bahasanya hanya sedikit dan disekolah sang anak berinteraksi di lingkungan sekolah yang juga berbahasa inggris.

Anak ini bisa bahasa inggris baik, namun janggal kalau ngomong sesama orang indoensia berbahasa inggris. Vocabulary bahasanya hanya bahasa pergaulan, terdengar keren oleh beberapa orang, tapi banyak yang jengah juga sih. Tapi mungkin saya saja ya kali ya. Yang sok nasionalis dan belum bisa terima konsep “world citizen” warga Negara dunia. Okeh dari pada pagi-pagi ngegosip selingan lebih baik balik ke urusan perlistrikan.

Saya belum jadi pengusahaan dunia pelistrikan atau energy. Tapi niat kearah sana ada banget. Kerena yang penting kan niat ya, jadi suatu saat memang mengalir kesana termasuk pertemuan kemarin ini. Saya di bawa dan di kenalkan oleh sahabat senior saya, bapak Eden dia asli sumatera utara , itu pasti bisa terlihat dari nama marga yang tertera pada nama belakangnya.

Pertemuan yang membahas PPA purchase power agreement ini lah mempertemukan saya dengan gadis muda manajer madya di depan saya. cantik, santun, berlogat dan sering menggunakan istilah inggris ini. Ketika dia mengulurkan namanya, hai pak, saya nirwana. Nice to know you pak…jeda sebentar mardigu wowiek?!

Iya mbak benar, dilanjut dengan kalimat di awal tulisan..halo, nice to meet you juga. Ini menjadi jawaban standar saya dalam dialog awal dengan para gadis, nice to meet you..yang membuat saya sering melihat benda yang Tuhan berikan pada wanita yang bernama TUMIT. Jadi..memang mbak nirwana ini tumitnya bagus. Jadi saya ngak bohong yang bilang “nice to meet”, benerkan ? (piss hehehe)

Lah memang bagus kok tumitnya..bagaikan lancip bulir beras. Halah..panjang deh cowo kalau mulai bicara tumit cewe.

Saya dapat nama jauh haru dari boss Eden ini katanya sambil melirik pak eden yang selalu tersenyum. O iya, ini kolega saya, Firdaus. Dia bagian studi pasar dan bagian lapangan terutama urusan RUPTL.. Saya pun mengulurkan tangan saya kepada pemuda lebih tua an usianya dari mbak nirwana ini namun sejajar posisi manajemennya. Wajahnya datar dan agak sedikit pelit senyum, kesan pertama agak tidak ramah dan kaku.

Saya tahu orang inilah (firdaus) sebenarnya yang menjadi orang yang akan saya hubungi di kemudian hari terbanyak.posisinya saya butuhkan untuk hal-hal yang nantinya akan menjadi kebutuhan dasar perjanjian kerjasama. Kebiasaan saya pada membangun “personal attachment” atau kedekatan pribadi memang harus di bangun sejak awal pertemuan namun terlepas dari “apple polishing” atau menjilat. 

Dua hal yang penting, menetukan “feeling” siapa yang “informal leader” pada pertemuan ini harus terbaca dari awal, kedua membangun kenyamanan orang tersebut tanpa terlihat kita butuh. Nah..urusan lengkapnya para play boy ngerti deh..mirip-mirip dunia lover boy kalau menentukan gebetan dan melaksanakan “mengapelan PDKT”.

Rumus : jangan terlalu menyerang, jangan terlalu lebay. Di bisnis…sama brader, ya kayak begitu juga.
Silahkan duduk bapak-bapak , kalimat lanjutan dari mbak nirwana. Kamipun berbarengan merebahkan diri di kursi yang melingkari meja bundar di sebuah kafe bilangan senopati, Jakarta.

Nah disinilah kebiasaan saya sekali lagi di mainkan. Saya biasanya membuka dengan sesuatu yang informal, yang santai. Otak masih di “tumit yang nice sih” hahaha tapi lidah ada di maneuver lain..

Wah sebuah kehormatan bagi saya hari ini..sungguh sebuah kesempatan langka bisa duduk bareng dengan 3 orang luar biasa yang “chance” pertemuan ini adalah “a million to one” satu dari 1 juta kesempatan. Saya harus beri aplaus tepuk tangan panjang nih hahaha..saya ketawa sendiri di tatap 3 orang setengah heran.

Mungkin di kepala mereka nih mardigu wowiek lebay amat sampai bilang kesempatanya 1 dari sejuta peluang.

Bapak ini ada-ada saja kata mbak nirwana, juga pak firdaus menimpali, buktinya apa boss..
Saya tatap balik ketiganya..loh pak banyangkan posisi orang seperti saya, atau mungkin bukan saya deh, orang lain yang sedang bertemu bapak ibu bertiga juga akan bilang yang sama kalimatnya.

Wajah ketiganya terlihat kebingungan yang saya lanjutkan ..pak bu, saya bagaimana yang bilang terhormat dan merasa tersanjung hari ini, saya duduk di lingkari eden, nirwana, firdaus..hanya beda terminology saja namun artinya sama. Apa ngak hebat saya berada disana. Orang lain mungkin nunggu di hisab perhitungan di akhir jaman baru bisa merasakan, saya sekarang di lingkungan itu,berada dekat eden, nirwana, firdaus…

Itu asli loh…mendengar saya ngomong begitu mereka bertiga meledak tawa terpingkal-pingkal sampai pak eden terkekeh-kekeh panjang mengangin perut. Dan mbak Nirwana menutup tissue mulutnya untuk menghalangi sedikit tumpahan muncrat t air seduhan tehnya, yang di tunjuk-tunjuk sama pak firdaus sambil terkekeh. Saya sih senyum senyum saja, dan dalam hati..nah, kena deh semua..lanjut ngelobby dulu yah..‪#‎maypeacebeuponus‬

Sukses Itu Bukan Kunci Kebahagiaan, Tetapi Kebahagiaanlah Kunci Sukses

Mas. Kita ngak bisa sekedar mencari investor atau sekedar pinjam uang dari bank. Kita harus punya "strategic partner". Orang tersebut harus merupakan orang yang memahami bisnis, investasi, berani mengambil resiko dan banyak uang.

Inilah kalimat dari mitra bisnis saya beberapa saat yang lalu. Dia di perusahaan saya yang lain adalah direksi namun di bidang yang baru ini, dia merupakan mitra usaha. Memang, dari3 minggu ini dosis kerja saya naik hingga 100% waktu kerja saya. hal ini jarang saya lakukan namun kali ini terpaksa. Berangkat dari rumah pagi dan berada diperaduan cukup malam bahkan quality sleep belum bisa di dapat lama, hinggga saat ini.

Kebiasaan akhir tahun? Mungkin iya. Dimana RKAP perusahaan mulai di meetingkan. Namun shifting strategi bisnis memang tidak gampang mengelolanya. Kalimat partner saya diatas hal itu banyak benarnya dan saya setujui. Pertanyaan nya di mana orang yang bergelar strategic partner itu berada?

Cerita ringkasnnya begini, kami memiliki lahan yang menjadi tidak bisa produktif gara-gara sungai porong yang dialiri lumpur lapindo membuat lahan tambak bandeng kami mati. Laut menjadi pendangkalan, dan tambak kami rusak unsur hara tanahnya. Efek dari limbah tersebut membuat jasad renik saja tidak ada yang hidup, bahkan kami menduga hal ini akan menjadi gurun lahan tidak bermanfaat.

Kerusakan alam ini hasil karya manusia yang tidak bertanggung jawab dan minta Negara yang menolongnya mencari jalan keluarnya. Kalu di bilang mangkel ya sudah tahunan. Tapi kita hidup dimasa kini dan masa depan. Jadi…kita mau melakukan sesuatu atas lahan tersebut.

Hari berlalu, Tahun berjalan, otak tetap berfikir apa yang bisa dilakukan. Di pikirkan terus menerus, lama-lama ada juga peluangnya. Yaitu ketika kita melihat dengan helicopter view yang lebih luas. Dalam prinsip saya, jika ada suatu niat, “stay there” terus lah berada disana sampai selesai. Terus di ucapkan terus dipikirkan terus di pertanyakan, terus di “repeat” di kepala. Diulang ulang. Apa solusinya, bagaimana caranya. Tanya Kediri sendiri, tanya keorang lain., di perbincangkan, di ungkapkan.

Tahunan berjalan hingga suatu hari ada informasi bahwa ada perusahaan asing akan memproduksi gas di tahun 2018. Mereka sedang mencari cara agar buyer gas mereka mudah mengambil gas produksi mereka. Karena posisi mereka di laut “off shore” maka meletakan di darat gas station nya akan lebih murah produksinya dan mudah aksesnya.

Karena posisi mereka di tengah antara pulau Madura dan jawa. Alternative nya banyak. Bisa di tarik pipa 50KM ke sampan Madura. Atau tarik pipa 4 KM ke pulau Kambing dekat lokasi pengeboran, atau di sambungkan ke pipa EJGP east java gas pipe yang muncul ke porong dan gresik.

Namun itu sem,ua tergantung buyer gas. Siapa buyer nya? Kalau yang beli jawa tengah atau tanjung perak maka pasti ke pipa EJGP, kalau yang beli Listrik di Grati pasuruan juga EJGP atau pulau kambing langsung tarik pipa ke grati.

Dan benar dugaan kami, yang ambil grati.

Maka ide kami adalah, jangan di sampan jangan di pulau kambing tapi di lahan tambak bandeng kami. Maka dengan gagah berani kami yang tidak kenal siapapun di perusahaan minyak dari Canada itu kami sambangi.

Berbekal surat tanah, kami menghadap divisi produksi. Kami dengan oral saja dalam waktu 30 menit mengatakan, anda akan hemat, cepat dan aman mendristibusikan produksi anda jika anda mendaratakn gas gathering stationnya di lahan bekas bandeng yang sekarang keurug limbah lumpur lapindo tersebut. Kami membandingkan lahan tersebut dengan 3 alternatif lainnya untuk gas landing.

Padahal niat kami Cuma satu. Lahan kami dibeli. Kami keluar dari masalah kepemilikan asset atas lahan tidak produktif. Mereka adalah “exit plan” kami. Sesederhana itu. Ternyata, tanpa diskusi panjang, keputusan itu langsung di setujui, lahan 10 ha mereka setuju beli.

Saya sangat kaget dengan cepatnya pengambilan keputusan tersebut. Namun ini memang beda ya, perusahaan multinasional dengan perusahaan local. Pengambilan keputusannya itu yang menjadi pembeda. Mereka cepat sekali.

Singkat kata. Lahan terbeli. Hal ini adalah cerita tahun 2013. Dan saat ini mereka sedang membangun untuk “ first gas drop” di tahun 2017. Komersial 2018. Masih lama memang. Namun dalam bisnis perminyakan itu termasuk cepat.

Karena itu pebisnisnya adalah mereka-mereka yang memiliki modal panjang dan visi panjang. Tahan lapar, detail dan berani beresiko. Mereka species pebisnis tersendiri dan inilah yang dimaksud dengan perkataan mitra saya di awal tulisan.

Apa yang kami akan lakukan? Kami ingin memanfaatkan sisa lahan yang tidak produktif tadi yang masih tersisa 10 kali nya dari yang terbeli perusahaan Canada tadi menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dan idenya gila, buat heavy industrial complex.

Bisnis yang belum pernah saya tahu, bagaimana caranya, bagaimana mainya. Total gelap, blank, tapi ada potensinya, secara logika saya saja. Modal besar? Pasti. Perlu professional? Pasti. Perlu pasar? Wajib. Mitra strategic? Nah ini..kemana dan dimana mereka ini? Dan perlu yang chemestrynya nyambung, itu fardhu, wajib!.

Selagi kami diskusi di sebuah lounge di sebuah co working space di jalan monginsidi Jakarta, mata saya memandang seseroang yang taka sing bagi saya. teman kuliah saya, junior saya di kampus. Yang ketika saya sambangi duduknya yang sendirian dia berkata, mas, dari tadi saya sudah melihat mas wowiek, tapi lihat wajah galak dan serius ya sudah saya melipir dulu kesini.

Saya hanya tersenyum, karena dia tahu sekali kalau saya agak galak itu pasti ada sesuatu yang saya sangat ingin selesaikan. Dan dia biasanya menjadi padawan saya, yaitu membantu pekerjaan saya dulu bereksperimen di kampus. Dan saya galak banget sama dia ini.

Saya berkata, kamu benar, saya ada sesuatu yang belum pernah saya lakukan dan akan lakukan dan tidak tahu caranya, tidak tahu jalanya. Cuma lihat sinar harapan kecil di ujung lorong gelap. Dan saya pun mencerutakan sekilas apa yang akan kami lakukan.

Dia menatap saya dengan mata tajam dan ekspresi aneh. Mas..inget eksperimen yang dulu kita lakukan di kampus. Itu problem solver nya. Kok ngak dilakukan?

Saya berkerut dan berusaha mengingat apa yang pernah kami lakukan bersama, dalam eksperimen kampus..tapi saya tidak menemukan yang mana di otak saya ini. Folder diotak sudah kayak computer yang mencari-cari data. Tapi tetap tidak ketemu.

Itu loh mas, yang dilapangan basket! Katanya mencoba membuat saya ingat namun tetap lupa. Sehingga dia menceritakan lebih lengkap. Gini katanya, inget ngak yang kita ambil beberapa orang, semua cewe. Belum pernah main basket.


Lalu kita suruh dia “shoot the hoop”. Masukin bola ke ring basket. Lalu dari 5 bola tidak ada satupun yang masuk. Lalu kita tutup mata dia, dan kita panggil 10 orang menonton dia dan menyemangati dia. Lalu kita tutup mata dia pakai blind fold. Lalu diposiskan di tempat shooting.

Begitu dia melempar bola, maka kesepuluh orang tersebut bertepuk tangan dan berkometar, padahal bolanya tidak masuk. Namun mereka bersorak seakan bolanya masuk. Berkomentar, yea, finally. Akhgirnya anda bisa, hebat, gitu dong, mantap!.

Setelah 3 atau 4 kali bola tersebut “masuk” padahal tidak ada juga yang masuk maka tutup mata dan kepala di buka.

Lalu cewe tersebut kembali di posisi shooting. Dia di berikan 10 kali peluang menembak sekarang. Dan ternyata dari seseroang yang tidak pernah main basket mereka sekarang bisa memasukan 4-5 bola ke keranjang di bantu tepukan penonton yang “cheering up” mendukung dia.

Jadi, otak manusia bisa di bantu dengan ilustrasi nyata dalam pikiranya bahwa dia bisa dilakukan. Walau belum pernah dilakukan sebelumnya namun dengan di stimulus mereka “pernah” melakukan ternyata merubah kimia yang ada di pikiran mereka menjadi kenyataan. Mereka membuat “pathway” jaringan baru di otak merka sehingga semua possible.

Apa yang mas akan lakukan adalah seperti gadis eksperimen basket kita dulu. Sekarang saran saya, cari kelompok orang yang pasti support mas wowiek. Share pada mereka bisnis mas kedepan. Mereka belum tentu bisa bantu. Namun “cheer up” mereka : mas pasti bisa lakukan, gampang itu buat mas wowiek…dan komentar positif lainnya dari siapa saja orang support mas wowiek. Akan merubah kimia di diri mas wowiek yang membuat mas wowiek jadi bisa dalam kenyataan. # may peace be upon us

..Dan Apa Sih Yang Kita Bisa Sombongkan Di Hadapan Tuhan?

Ini semua di ambil oleh pemerintah china pak? Kami hanya produksi saja terus nanti ada badan pemerintah yang membeli. Demikian seorang china yang bisa berbicara bahasa indonesia cukup lancar walau tidak pernah keindonesia ketika beberapa tahun yang lalu saya belanja toilet di sana menjawab pertanyaan saya.

Jalan hanya 1 jam melewati kota pelabuhan shenzhen. Sampailah kami pada sebuah kota yang semuanya terdiri dari bangunan ruko tiga lantai. Mungkin bukan kota, desa, kecil banget kok . namun Hebatnya adalah desa tersebut memproduksi hal yang sama, yaitu wc toilet. Satu desa, memproduksi barang yang sama tersebut.

Kalau boleh memberikan ilustrasi agar bisa mebayangkan daerah tersebut adalah seperti ini. jajaran ruko berbaris berlapis lurus panjang, semua sama kefungsiannya. Setiap rumah anda akan melihat, Lantai bawah show room, di atasnya tempat produksi dan di atasnya lagi rumah tinggal. Semua sama, semodel hanya produksinya berbeda bentuk. Saya tidak dapat menghitung berapa jumlah ruko atau rumah produksi itu namun kalau 1000 ruko rasanya ada kali.

Hal yang menarik pertama selain produsen toliet bagi saya adalah mereka memanfaatkan ketiga level bangunan tersebut secara utuh, sementara kalau saya inget di tanah air tercinta, bangunan ruko 3 atau 4 lantai kebanyakan ke isi 2 lantai saja, sisanya idle, kosong.

Kembali ke ruko 1000 unit di desa tersebut, bayangkan kalau misalnya satu hari mereka produksi membuat 5-8 unit toilet ada 5000 – 8000 toilet per hari di produksi. Dan kalimat di atas tadi adalah jawaban atas pertanyaan saya.ketika saya bertanya, pak. Ini siapa yang beli produksi toilet nya? jual kemana?

Rupanya ada sejenis “bulog nya china” yang khusus membeli barang produksi dari “small home indsutry” di china. Sehingga mereka hanya fokus di produksi. Urusan jualan diambil oleg bulognya misalnya untuk urusan produksi WC toilet ini. Dan kata mereka, lembaga penyangga badan usaha milik negara perdagangan tersebut ada banyak, ada ratusan. Ada berbagai bidang yang semua di beli oleh pemerintah jika tidak laku atau sebagai badan penyangga produksi.

Bagi saya ini sangat menginspirasi. Bangsa china hanya fokus di produksi, titik. Kalau belum bisa dagang atau menjual maka akan di beli oleh pemerintah dengan harga standar, dan pasti tidak rugi. Namun jika ada pembeli langsung mereka bisa deal langsung. Menjual kepada buyer yang kebanyakan adalah dari negara luar. Pemerintah hadir dalam setiap industri di sana.

Sementara di china dengan 1,2 milyar penduduk. Kalau sekedar 1 daerah menghasil 5000 – 8000 wc toilet , pasti kecil hal itu. Pasti habis tertelan di pasar lokal sendiri. Tapi ide badan penyangga ini membuat semua orang bisa memenuhi kebutuhan dasar mereka. Tanpa takut produk tidak ada yang ambil.

Pemerintah hadir mengawal hasil rakyat. Yang ternyata setelah saya tanya lebih dalam lagi , pemerintah juga terus mengadakan pelatihan, penyuluhan atas standar produksi. Yang pasti agar produsen dan produksi makin baik, itu tujuannya.

Mata dari badan penyangga tersebut sangat tajam. Mutu produksi yang rendah di bayar di bawah harga pasar, harga pokok. Tapi kalau jelek sama sekali tidak layak ya baru tidak dibeli. Jadi ada standar mutu juga, ada grading juga. Dan itu bagus.

Sekarang mengapa saya ke desa itu? Kenapa saya ke china? Pikiran saya nomor satu adalah saya ingin mutu bintang 5 seperti grohe untuk toilet di hotel saya. Dan pastinya harga ya ngak mau bintang 5. Di sisi lain saya ingin pakai grohe, ntapi harganya muahal buanget. Di banding barang china, Grohe juga produk import. Maka saya ke china, cari bowl toilet, yang mirip grohe, KW1 tentunya ternyata harganya hanya 20%. Hanya keramik bowl dan sejenisnya yang saya beli, sistem alat mechanicnya tetap original alias tetap saya pergunakan grohe yang asli. Saya kawinkan.

Urusan rotating dan pnenumatic tetap menggunakan eropa. Yang statis bolehlah barang china. Dan barang statis biasanya 80% dari sebuah benda oepration khan. Jadi bisa di bayangkan berapa kita berhemat?

Jika di jumlahkan maka harga saya membelinya hanya 40% dari harga publiknya toilet bintang 5 , Grohe tersebut.kalau di lihat secara kasat mata hampir tidak bisa membedakan, kalau dipergunakan ya memang grohe. Untuk 120 unit toilet set khan mending saya import dari china?! namun mutu tetap eropa, plus hemant 60% karena harga 40%, itu sudah dengan ongkos kirim.
Peristiwa inilah yang membuat saya menulis tulisan ini. Dimana saya baru saja mendapat laporan dari progress bisnis hotel kami di cepu. Arra Amandaru cepu yang sudah menginjak tahun ke tiga sekarang. Dengan barang kombinasi WC toilet china german tersebut dan sejauh ini tidak ada keluhan dari pelanggan.

Zero complain adalah sebuah prestasi. Dari sebuah keputusan kontroversi awalnya. Namun mencari harga termurah, mutu terbaik, waktu tercepat adalah seni berbisnis. Grohe KW china tersebut berhasil. “So far so good”. awalnya pasti di tentang , lah memang ngak umum, tapi yang penting di awal saya percaya, hal ini bisa di lakukan, “do able”. Walau hanya intuisi, namun ada logika “common sense” nya juga.

Terlepas dari cara nyleneh dalam pembelian alat toilet tersebut, yang membuat saya selalu teringat adalah dalam hubungannya dengan china tersebut adalah strategi pemerintah yang melakukan “buy back” atas hasil home industry.

Karena tak jauh dari desa tersebut, desa Chaozou kalau tidak salah ada desa yang memproduksi alat pertanian, mesin bajak sawah pakai tangan. Itupun di sangga pemerintah secara harian untuk menampung produksi home industry tersebut.

Badan usaha perdagangan miliki pemerintah tersebut semacam VOC nya belanda dahulu. Tugasnya membeli produksi rakyat dan menjualkan ke market internasional dengan harga bulk, borongan. Walau kenyataanya, kebutuhan lokalnya pun belum bisa terpenuhi. Hal ini membuat kestabilan berbisnis.

Saya suka sekali strategi itu, bukan apa-apa sih sebenarnya. Karena, saya ini merasa, dalam bisnis banyak hal yang rumit dan panjang mata rantainya seperti SDM, bahan baku, material produksi, mutu, distribusi, merek, pemasaran dan penjulan, banyak banget lainnya lagi. Dan itu adalah hanya untuk satu buah produksi. Katakanlah ballpoin saja. Panjang banget dari proses material awal hingga sampai di tangan anda.

Dan, kalau sebagai pebisnis hal itu bisa di kurangi, misalnya penjual dan distribusi di ambil. Maka fokus kita bisa tinggal 60% namun di curahkan perhatian 100%. Ya pasti saja produksinya secara mutu meningkat, atau secara produksi bisa lebih cepat. Ini cara pintar, sementara, di perusahaan yang milik pemerintah tadi, fokusnya hanya berdagang dan distribusi. Persis seperti unilever, hanya menjadi marketing arms saja. Tentu fokus dan kompetitif bisnis jadinya. Ngak kebayang kalau ada lembaga tersebut di Indonesia ya? . # may peace be upon us