Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Mardigu Wowiek: BOLA KERAMAT JATUH

Mardigu Wowiek: BOLA KERAMAT JATUH

Bola dalam juggling bisnis yang tidak boleh jatuh atau bola keramat yang tidak boleh jatuh adalah bola yang bertuliskan kata PROFIT.
Jangan pernah menjatuhkan bola tersebut. Sekali jatuh akan berat terangkat lagi dan tersering usaha tutup.
SDM boleh ganti, system manajemen bisa di ubah berkali-kali, bahkan produk bisa ganti, corporate action bisa ganti, bisa gagal, distribusi berantakan, kemasan jelek atau brand tidak terangkat angkat, semua tidak masalah, namun sekali profit jatuh, selesai.
Seperti halnya dalam performa BUMN saat ini. bayangkan sudah dimanja, di kasih proyek, di kasih prioritas bahkan monopoli, bahkan sekarang didiamkan saja oleh pemerintah mengurita sampai kusaha rakyat kecil, semua kerjaan jatuih ke BUMN atau BUMNisasi yang meyebabkan keringnya dana cash beredar di masyarakat yang mulai menggebuk kelas menengah.
Apa hasilnya?
Dalam laporan kementrian BUMN agustus 2017, pendapatan 118 BUMN merosot dari 2,116 triliun semester 1 2016 sekarang semester 1 2017 hanya 936 milyar!!! Laba dari tahuan 2016 semester 1 197 tiliun menjadi 87 triliun semester 1 2017.
Apa masalahnya? Karena mereka bukan entrepreneur, semua mental pegawai. Kita harus kritik keras semua direksi BUMN,kita harus pertanyakan kempuan mereka hingga kepucuk tertinggi, asli kita harus menantang entreprneurship mereka. Gajih besar, fasilitas selangit, prestasi?? Beeeehhh itu terbukti angka bicara!
Kalau saya jadi pemilik club bola, dimana pemainnya tidak bisa menciptakan gol di lapangan pertandingan, pelatihan dan manajernya terbukti tidak perform, saya jual tuh club. Bahasa lainnya, BUMN itu di go public khan biar di beli swasta.
Di bilang Negara ngak usah berbisnis masih saja ngak percaya. Swasta nasional jauh lebih bisa mengelola perusahaan dari pada Negara berbisnis.
Lalu di tambah lagi bercita-cita BUMN Negara ambil 51% saham Freeport lagi. Mengambil mayoritas yang seakan dengan mayoritas lebih berdaulat lebih menguntungkan. Terus propaganda pahlawan. Sekali lagi, dari mana kacamatanya bahwa tindakan mengambil Freeport oleh BUMN akan menguntungkan?
Kunci bisnis khan profit, jualan Freeport copper concentrate yang harganya “dimainkan”, apa ngak lihat bisa di lakukan transfer pricing dan lain sebagainya. Duh naïf bener ya.
Lalu BUMN mana yang ambil? SDM BUMN nya? Modalnya dari mana? terus memiliki mayoritas artinya Negara memberikan “souverign guarantee”, lah kok enak asing di kasih souverign guarantee. Gimana mikirnya sih ini? pernah bisnis ngak sih? Negrti ngak sih semua itu buah simalakama di pasang di sana sisi sama swasta, apa lagi swasta asing, amerika pula yang bajingan, rusak kalau naïf kayak begini ngelola Negara.
Jadi kembali kebola profit. Kelola BUMN kali ini menjelaskan satu hal, bola profit nya jatuh, dan berat naiknya lagi karena yang di juggling bertambah banyak bolanya, ada bola “national security”, ada bola “nation treat”, ada bola “survival of the nation”, ada bola “kedaulatan Negara”, ada bola “beban bunga dan pokok pinjaman Negara”, dan eehh ada bola di pentingkan sekali “bola 2019 harus berkuasa kembali”. 

Mardigu Wowiek: WAR ROOM

Langkah gontai menuju istiqlal dan menutup wajah dengan sepuluh jari menceritakan banyak yang tidak bisa ditulis singkat dalam buku harian. Gerakan itu mencampur banyak cerita yang terbungkus dengan satu gerakan, menutup wajah dengan jari dan membawa wajah dan jari tadi kepangkuan paha.
Antara kecewa, kelelahan, penat, beban berat tak tertahankan, ketidak berdayaan, dan otak bekerja keras mencari ilham dari langit apa yang seharusnya nanti akan di lakukan untuk yang terbaik . Semua jadi satu.
3 hari sebelum tertelungkupnya tangan di pangkuan. Catatan : Bagi sahabat yang berniat melanjutkan membaca tulisan ini, mohon tinggalkan semua atribut pribadi ya. Jadi seperti bayi melihat dunia. jangan ada kesimpulan apa-apa. baca sebagaimana seseorang yang memiliki kewajiban atau tugas sedang dia laksanakan.

Sebuah ruangan yang tertutup yang kalau tidak ada lampu banyak, ruangan ini gelap, interiornya kayu mahoni yang gelap, meja semua kayu berwarna gelap, kursi dan lain sebagainya semua berkesan gelap. Sekilas mau berkesan cozy, namun yang ada memberi kesan angker, jika tanpa lampu penerangan.
Disinilah kami selalu melingkari meja dimana di depan pintu ada sebuah plakat nama menunjukan kelamin ruangan ini, war chamber. Ruang tempat diskusi berat dan serius. Hanya sedikit manusia yang miliki name-tag yang juga merupakan electronic door key untuk masuk ke ruang ini. saya merasa terhormat sekali berada disini dan dalam belasan tahun karir, akhir nya saya di percaya masuk ke ruang ini. tahun ketiga saat ini.
Mengapa sih saya detailkan situasinya? Karena saya tidak ingin sahabat tidak mendapat data lengkap. Itu alasan utamanya.
Pagi itu debat panjang mengenai aksi 4 nov yang pada saat itu hanya di beri nama “demo menuntut ahok”. Namun bagi orang seperti kami. Itu perkataan klasik. ahok itu ngak penting, pasti targetnya istana. Kami tidak goyang atas pernyataan tersebut, ahok itu ngak penting. Dia bukan panji Negara, dia bukan symbol Negara, institusinya bukan vital. Kenapa di target?! Apa istimewanya? Menistakan agama? Di youtube itu banyak datanya, yang menistakan agama islam banyak, yang islam menistakan agama (Kristen terutama) banyak!!
Riziq cs dan islam radikal lainya kalau mau di demooleh umat Kristen pasal penistaan agama pasalnya dan buktinya banyak tuh betebaran di youtube, tanpa editan. Kita ngak usah bahas lagi ya. Sekali lagi, ahok tidak penting tetapi kenapa di tekan terus? Karena istana di anggap mendukung dan memang menarget istana. Selesai sesederhana itu akar masalahnya.
Jadi kenapa istana di target? Kenapa om jack di target? Itulah politik! Ada politik local , ada politik regional, ada politik dunia atau semua di kenal dengan istilah geo-politik. Itu kejadian harian, tidak ada yang baru. Membacanya baru berbeda setiap detiknya. Sangat dinamis. Sedinamis kepentingan manusia, politik itu taat dengan kepentingan dan sangat transaksional.
Kita lanjut, kita urai satu-satu apa yang kami perdebatkan yang kami simpulkan: penistaan surat almaidah merupakan pintu masuk yang sayngat ideal karena memenuhi : syarat filosofis, syarat sosiologis, dan syarat yuridis formal. Ini (peristiwa almaidah pulau seribu) bisa di pakai untuk menekan transaksi politik istana dan partai pendukung ahok. Sekali lagi dilihat, istana selalu di target.
Sekarang lihat yang menggerakan, sebelum penggalangan massa selalu di awali dengan penggalangan opini. Penggalanag opini nya massive sekali. Terukur, tertarget. Ini bukan kerja spontan, ini kerja terencana. Propaganda nya bisa di lihat jelas peta di sosmed, di media alternative lainnya.
Penggalangan opini yang di bangun adalah pendapat seragam. Yaitu propaganda menyamakan persepsi dulu yaitu memberikan “common value”nya adalah “al quran kita di hina”. Sebuah kata kunci yang tanpa lihat konten orang mudah terpengaruh hanya dari judul. Ini di viral. Tujuan awalnya satu, opini terbentuk.
Hanya satu opini yang harus terbentuk yaitu membuat orang berkata dalam hati kecilnya, iya ya..al guran kita di hina!!. Lalu menggunakan kata generalis : umat islam semua setuju al quran di hina, lalau kalimat : semua ulama setuju al quran di hina.
Kalimat generalis ini penting, karena begitu menggunakan seluruh alim ulama di pakai berulang ulang, maka mulai mengerakan opini massa akan pendapat yang sama.
Itu adalah step yang di bangun di awal propaganda. Lalu setelah bulat dan di angguk banyak, mulailah lah “mengarahkan” dengan kata kunci tadi , “semua ulama setuju” kita harus turun ke jalan menekan pemerintah menangkap ahok, mempidanakan ahok. Seklai lagi , Ini kata kuncinya yang dipakai diulang-ulang, semua alim ulama setuju!!!
Umat tergerak sekarang, membenarkan bahwa al quran di hina, membenarkan harus turun ke jalan, karena semua alim ulama, habaib, waliullah, mendukung dan setuju.
Peta itu kami tahu sekali, sudah jadi di mind map yang diciptakan dengan sengaja. Terutama netizen. Karena susuan data harus di buat perlahan dan step by step. Dan sudah di atur dengan rapih sejak awal.
Ini yang membuat kami harus berfikir keras di war chamber ini. apa yang harus dilakukan agar semua damai , itu saja, sederhana juga. Karena fanatisme mudah menyulut emosi.
Seorang senior yang duduk di samping saya sejak pagi memiringkan dirinya dan setengah berbisik, dia berkata, ini ideological warfare mas. Ini bisa buat Indonesia seperti suriah!!
Mendengar kalimat tersebut saya tidak berekspresi, tidak mengangguk tidak bergerak, diam menatap tembok yang penuh coretan. Dia melanjutkan, jalankan “hornet nest” mas!!
Saya tidak menatap dirinya ke kanan, saya terus ke depan dan menjawab, saya tidak berani pak!! Say atahu kekuatan mereka, mereka turun penuh kita tidak bisa kendalikan, chaos pak.
Kita harus berani jalankan hornet nest mas. Walau beresiko namun itulah survey yang paling akurat atas data terakhir mereka di lapangan. Dia menekankan pendapatnya
Berat pak, saya tidak berani! Bisa jadi loose cannon pak. Bola liar, istana ngerti ngak? Aparat ngerti ngak? Saya tetap bertahan.
Dia sekarang yang menurunkan nada suaranya, dia sangat senior, dalam dunia lemhanas dan intelegen dia merupakan manusia yang paling di hormati di tanah air ini. namanya tidak di kenal, orangnya kecil bahasanya santun, ibadahnya rajin dan anda tidak akan pernah tahu kalau melihat tampilannya yang sangat rendah hati ini, ternyata untuk NKRI ngak ada tawar menawar, bisa hati hitam untuk menegakan merah putih selalu tegak di nusantara ini.
Kamu bener mas. Mereka belum tentu siap!
Iya pak, saya lanjutkan, pendekatan aparat saat ini selalu pakai “enemy centric approach” dan bisa chaos kalau itu di pakai.
Tak lama kemudian, dia mengangkat tangannya untuk meminta perhatian seisi ruangan, yang kemudian ruangan di ambil alih olehnya yang dilanjtkan dnegan perkataannya : begini, kita sebaiknya jalankan hornet nest strategy, saya setuju sama ide mas sontoloyo ini. HAH, kata saya dalam hati, waduh, lempar tangan sembunyi batu ya, eh lempar batu sembunyi tangan nih dia. Yang dilanjutkan dengan sebuah spidol biru di lempar ke saya oleh seorang senior, yang berkata, coba di detailin rencananya mas.
Saya sambil berdiri berjalan ke depan menatap wajah senior kanan saya yang cengengesan dan menggerak tangan mempersilahkan saya ke board. Saya menarik nafas dalam, ini saya kena jurus “reverse psychology”nya..(cuuut..maaf break sebentar ya, mau sabu dulu , baca : sarapan bubur) # peace

Mardigu Wowiek: MIND TWISTED

Sahabat pasti pernah mendengar istilah “mind twisting”. Bagaimana seseorang dengan cara cepat membalik atau merubah pemahaman yang saat ini di milikinya dengan sesuatu yang baru.
Ada tekniknya tentunya untuk melakukan hal ini tapi saya tidak ingin membuka jurusnya tersebut saat ini, saya hanya ingin membuat sahabat merasakannya.
Jadi, kalau sahabat sudah punya pendapat apapun tentang pak presiden kita saat ini, apapun itu. Jangan sebel sama saya kalau mendadak ada sisi pandang lain yang membuat sahabat akan meragukan pemahaman lama dan bisa dengan suka rela meletakkan pemahaman tersebut dan di ganti dengan pemahaman baru yang akan saya berikan sebentar lagi.


Sekali lagi ini ada dasar keilmuannya untuk melakukan mind twisted. Saya ini sahabat tahu khan bahwa saya sangat sontoloyo. Dan bagi sahabat yang keburu mengucap atau melebel apapun tentang presiden kita yang pastinya hal negative sehubungan 411, jangan kaget kalau di ujung tulisan ini anda jadi netral. Bahkan mungkin menjadi positif. Izn loh, jangan sebel sama saya ya!Saya sontoloyo khan?
Jadi kalau yang tetap ingin menganggap pak presiden kita seperti persepsi saat ini (agak negative), jangan lanjutkan baca tulisan ini. tetapi kalau yang mau membuka diri karena kemungkinan anda menjadi netral anda jadi sisi baru melihatnya (menjadi positif), silahkan di lanjut bacanya.
Sekali lagi, apapun hasil anda di ujung tulisan ini, kita tetap sahabat ya, setuju ya? Dan saya ingatkan, dari awal saya netral. Saya ini sekrup di salah satu mur persendian Negara, tidak ada apa-apanya jabatan dan posisi saya.
Siapapun presiden yang secara konstisional menjadi terpilih, saya pasti menyangganya.
Kita mulai ya, sudah siap. Ehem,..ada yang deg-degan ya? Ada yang ngak percaya? ada yang tanya, dasar bossman sontoloyo lebay lu ah! Apapun itu, bersiap ya.
Sahabat pasti semua tahu bahwa tidak ada persoalan yang tidak ada jawabannya selama “bertanya-nya benar”. Jadi kalau kita “tidak menemukan jawaban”, pasti karena bertanyanya salah. itu kalimat lain nya. Atau saya lanjutkan lagi dari sisi lain lagi, semua persoalam bisa terjawab selama kita bertanya dengan cara yang benar. Bertanya yang tepat, pasti jawaban tepat di dapat.
Baik, kita lanjut lagi sekarang. Sahabat semua tahu bahwa pak presiden kita setelah peristiwa demo damai 411 melakukan safari blusukan politik. Ke tentara, ke kepolisian, ke PB NU, ke PP Muhamadiyah dan banyak lagi institusi di sambanginya dan tokoh di sambanginya atau di hubunginya.
Dia ingin arti damai yang sebenarnya dan mendapat maaf dan menjadikan keputusan kemarin sebagai pelajaran. Untuk itu semua, dia kerjakan sendiri, langsung dia titeni, lakukan semuanya sendiri.
Itu adalah data yang semua sahabat pasti tahu. Dalam kalimat ini mohon jangan di beri label dulu ya. Jangan di analisa, jangan di komentari. Sabar. Sabar..sekali lagi sabar. Tulisan ini belum selesai. Lihat dengan mata bayi dan hilangkan semua label.
Kita lanjut.
Panggilan pertemuan wajib dalam ruang war chamber mendadak saya dapati kemarin. Saya pun bergegas menuju lokasi yang di tetapkan. Dalam ruang kami hanya ber7. Semua duduk melingkari meja. Semua wajah datar dengan seonggok tumpukan kertas di hadapan masing-masing.
Setelah 1 jam diskusi maka giliran saya di minta waktu untuk bicara. Maka saya dengan segala ketidak tahuan, dengan segala kebodohan memulai dengan sebuah kalimat bertanya.
Izinkan saya untuk bertanya dua hal, demikian saya membuka kalimat. Setelah pertanyaan ini di jawab, barulah saya menjadi manusia yang sedikit tahu. Sekarang (sebelum pertanyaan saya di jawab) saya manusia yang tidak tahu apapun. Makanya saya kalau tidak tahu saya tidak bisa komentar.
Komentar pengecut misalnya ke pak presiden, karena pergi dan tidak menemui umat, dan beragam komentar lainya itu bagi saya (kala itu) tidak berani saya ucapkan. Saya memang mengangguk dan menyetujui presiden kita pergi dan tidak menemui massa demo karena itu fakta yang semua orang tahu bersama. Tetapi yang saya butuhkan sebelum komentar adalah tahu lebih jauh lagi kebenarannya, yaitu dengan bertanya. Pertanyaan saya tersebut harus tepat.
Maka saya bercerita sekilas sebelum saya bertanya, pak presiden kita secara geo –strategi dan geo-politik masih hijau. Maka pasti dia bertanya kepada orang disekitar pada saat 411 kemarin apa yang harus beliau lakukan. Untuk itu, bolehkah saya bertanya, siapa sebenarnya yang menyarankan pak jokowi untuk tidak bertemu dengan demonstran ?!!
Ruangan mendadak hening dengan pertanyaan saya. Maka sebenarnya tiada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut kecuali orang tersebut ada dalam lingkar presiden disaat itu. Dan dari kami ber7. 1 senior berada di dekat presiden kala itu, jadi tepat dimana pertanyaan saya di lontarkan ada saksi yang bisa menjawabnya. Siapa yang menyarankan presiden untuk tidak menjumpai sahabat yang berdemo?
Saya tidak menunggu senior itu menjawab, karena tangan saya bergerak memberikan kode bahwa masih ada 1 kalimat pertanyaan lagi. Yaitu sebuah fenomena dimana saya berada di sana pada saat kejadian yaitu pada jam 8 malam, dilokasi, di tempat dimana bentrok terjadi.
Pertanyaan saya kemudian adalah, siapa yang memerintahkan menembakan gas air mata kearah demonstran? Sekali lagi, tindakan aparat keamanan melakukan tembakan gas air mata, pertama kali diperintahkan oleh siapa?
Kita semua tahu, prajurit, tidak akan bergerak tanpa komando perintah atasan. Maka pasti ada perintah, maka saya bertanya siapa yang memerintahkan!!!
Inilah dua pertanyaan yang bagi saya, jika saya tahu jawabnnya maka saya menjadi faham keadaannya.
Sahabat tahukah apa yang terjadi selanjutnya ketika pertanyaan saya di jawab dengan bukti dan fakta? bersiap ya? apa yang akan saya tuliskan selanjutnya, dan informasi ini bukan rekayasa, bukan bercanda apa lagi main-main. Saya tidak pernah bercanda mengenai kebenaran. Karena kebenaran pasti bisa membuktikan dirinya sendiri. Apa yang saya dapatkan jawabnya adalah kebenaran yang bisa di buktikan.
Tahukah sahabat begitu saya mendapatkan jawabnnya, ternyata dua hal yang saya tanyakan, siapa yang menyarankan presiden tidak menemuhi demontran dan siapa yang memerintahkan melontarkan gas air mata. Jawabnya adalah : Orangnya ternyata sama!!!
Kapolri, kapolda dan panglima TNI sampai kaget sewaktu lontaran gas air mata terjadi dan memerintahkan menghentikannya. Namun setelah berhenti sebentar, tak lama setelahnya, terjadi lagi perintah tersebut pelontaran gas air mata untuk memukul mundur demontran. Yang segera di tahan (sekali lagi) oleh pimpinan lapangan yaitu kapolda, panglima dan kapolri. Tapi apa lacur, nasi sudah jadi bubur.
Chaos sudah terjadi. Dan pak presiden begitu mengetahui perbuatan siapa, beliau marah sekali, beliau kecewa sekali. Beliau tahu dia (pemberi saran dan perintah) telah membuat kesalahan, namun sebagai pemimpin beliau ambil sikap. Tidak ada anak buah salah, dan semua sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur. Maka yang presiden lakukan, adalah membuat bubur lebih layak di sajikan, di tambah ayam suir, di tambah tong cai, di tambah cakwe, di tambah sambel, di tambah sedikit kuah dan chees stick.
Dia mikul duwur mendem jero. Dia telan semua sendiri, dia bawa bebannya sendiri. Dia tidak cengeng mengumbar ke public. Dia akan selesaikan uraiannya masalahnya satu persatu. Percaya saya, ahok segera di kursi pesakitan, keingin semua umat akan terpenuhi. Dan beliau diam atas kesalahan yang dilakukan penasehatnya dan dia selesaikan masalah semua segera satu persatu.
Presiden kita sendirian saat ini. Kalau sahabat bisa mengerti di posisi dia, sahabat pasti akan kaget, kagetnya tidak sekarang. Nanti. Dia berubah, beri dia kesempatan dan waktu. Dia tidak sempurna, tetapi satu hal saya berani bertaruh, dia integritasnya tidak di ragukan. Hanya mungkin dia lalai saja, manusiawi bukan? # Peace

RHOMA TRUMP

Ketika angka perolehan Donald Trump melewati treshold 270 dan jadilah Trump menjadi presiden amerika ke 45. Maka di kepala saya hanya satu yang terlintas saat itu, ini bagaikan Rhoma Irama jadi presiden indonesia!!! Speechless saya.

Kita mau fokus kemana nih sekarang? Ke Trump yang minim politik luar negeri atau Rhoma yang ..ah sudah lah, rhoma itu bisa multi tafsir kalau di gandeng ke Trump tetapi ada satu hal kekuatanyanya yaitu rhoma bagi saya aset nasional dia menciptakan ‘champion product” yang namanya dangdut. Walau tidak di respect dikalangan atas dan pejabat sejauh ini. Padahal kalau di kelola benar, dangdut bisa jadi k-pop nya indoensia, samba nya indoensia, tanggo nya indonesia, bollywood nya indonesia. Kalau pemerintahnya ngerti, kalau DPR nya perduli ini juga loh!

Yang jelas ini peluang yang saya lihat ketika amerika di pimpin oleh seorang mogul business seperti Trump. Pajak korporasi turun, profit korporasi naik, employeement lapangan kerja pasti terbuka lebar banyak karena ekonomi korpoarasi berputar sehingga pengangguran di amerika kurang.


Amerika beli amerika, mereka pasti mengurangi import ”barang jadi” masuk ke amerika, manufaktur dan produsen factory akan full capacity. Mengurangi outsourching dari berbagai negara, dan sibuk dengan “homeland security”.

Inilah masa kita (indonesia) melakukan penguatan di dalam negeri. Diluar amerika terjadi euforia seperti di rusia yang bertempuk tangan di dewan perwakilan rakyatnya ketika trump menang. Trump itu “angry white man” yang melihat panjang akar masalah di amerika. Dia menafikan semua kalkulasi lembaga survey, dia tidak perduli dengan komentar analys. Dia melihat dan tahu dari awal “pain point” rakyat amerika.

Itulah ketajaman entreprenuer yang terlatih. Dia melihat dengan “mata profit” setiap masalah. Dan Trump fokus di sana, di pain point tersebut. Sementara hal ini membalikan pemahaman politikus, analis politik, akademisi, lembaga survey sekalipun. Dia dapat “root” akar masalahnya. Sehingga walaupun dia terlihat “membully”, angry, badung, kekanak kanakan, mocking meledek, womenizer, semuanya memang bukan ‘act of statement” atau perilaku kenegarawanan, bukan dan memang bukan.

Tapi itu perilaku pebisnis di dragon dent. Perilaku para titan ceo di ruang meeting. Perilaku mogul di meeting suite. Ya seperti itu : sinis-Sinical, bengis, tajam-sharp, black heart, thick face, hostile!!!. Di depan para dragon di depan para titan, sama dengan di depan singa atau macan. Ada terlihat lemah anda di terkam, berbalik membelakangi, anda di terkam. Mereka kejam, ruthless!!.

Semua mogul business, tycoon, baron, billionaire, mereka pasti pernah melakukan itu semua. Mau itu zuckerberg, bill gates, steve jobs, buffet, kashogi, yang namanya makan teman, musnahkan competitor, membuat berrier to entry agar tidak ada yang masuk ke wilayah mereka adalah hal biasa.

Trump memagari perbatasan 3100 KM dengan mexico,membuat tidak mudah lagi imigran mendapatkan green card apalagi citizenship amerika, tidak akan mudah lagi. Tidak akan semudah archandra mendapatkan kewarganegaraan amerika dulu lagi. Begitu amerika menjanjikan archandra pindah deh. Sekarang indonesia menjanjikan, pindah lagi deh. ( sorry saya masih mangkel urusan NKRI sama archandra ini). eh bpk archandra, pastiin lagi nih amarika bakal great again, ngak kesana lagi?!!, pastiiin dong ya, tempe bener sih NKRI nya.

Ok, sudah selesai ngeledek archandra, balik ke Trump. Trump pasti akan membangun bisnis amerika, bukan rakyat nya, tetapi korporasi, trickle down effect economy di pakainya. Sekarang dia lagi menyiapkan 4000 team baru yang yang akan masuk dalam lingkar manajemen white house.

Dan catatan, amerika ngak ada BUMN!!! Kalaupun ada SOE state own enterprise ya ngak kayak yang di kelola BUMN indonesia yang meniru ala china tiongkok. Dan korporasi amerika tidak pernah mempergunakan atau megeksploitisir sumber daya alam amerika abis-abisan untuk menghidupkan dan menutupi anggaran negaranya. Aset natural resourses amerika akan panas bumi, shell gas, minyak dan lain sebagainya itusalah satu yang terbesar di dunia, baru terpakai 20% kali, masih ada ratusan tahun bisa bertahan.

Yang namanya korporasi seperti mobil oil itu atau banyak oil company besar di dunia itu bukan “nyedot” minyak di “homeland” nya, tetapi di negara orang. Itulah nation interest mereka. Kalau indonesia, sudah perusahan negara, nyedot kekayaan alam sendiri, lalu monopoli (seperti PLN & pertamina) rugi lagi, tempe bener sih!!. Ada 126 BUMN yang untung dikit, paling hanya 20 an, bayang kan, tempe ngak tuh?!.

Eh rakyat dibuat ngak sadar juga bahwa manajemen kenegaraan kita yang terfokus pada politik, lupa akan sustainability atau kelangsungan hajat perut rakyat jangka panjangnya. Harus demo apa kita turun ke jalan baru pemerintah memperhatikan bahwa angka penganguran tinggi, tamatan sekolah ngak keserap lapangan kerjaan, cari modal sulitnya minta ampun di bank dan lembaga lainnya, pemerintah belanja proyek ke BUMN, RAKYAT DAPAT APA BOSS?, terus tanah air di jual semua dengan relaxasi. Sempurna..tempe nya!!!

Waduh, ini gara-gara Trump nih omongan saya jadi ngelantur ke urusan negara. Saking saya mangkel sama kabinet KW 3 ini. coba deh, menteri mana yang “right man in the right place”? Kalau dia “right place” KPI index prestasinya yang perform siapa?nah loh, sontoloyo ngak tuh pertanyaan. Jangan di taro ke hati ya omongan bossman ini. # peace

Kita Tidak Bisa Memilih Kepada Siapa Kita Di Lahirkan, Namun Kita Tetap Bisa Memilih Dengan Siapa Kita DIBESARKAN

Mendengar kabar salah satu sahabat pebisnis menjadi orang nomor satu di sebuah asosiasi dagang terbesar di tanah air, dikepala saya ada dua hal saya pertanyakan. Yang satu adalah sebuah tugas berat menantinya 5 tahun kedepan apa strateginya? dan yang kedua apakah kaderisasi dalam bisnis nya sudah siap?

Setahu saya, dia walau memiliki banyak perusahaan dan anak usaha. Dia adalah orang yang yang membangun organisasi bisnis bercentrum pada dirinya. Istilah saya “i corporation”. Semua orang dibawah organisasinya dalam setiap tindakan harus atas sepengetahuan dirinya. Bahkan dalam hal sekecil apapun. Dia Raja kecil. baginya, anak buahnya hanya penyelesai apa yang dia mau atau apa yang dia rencanakan.

Kebiasaan nya ini membuat saya berfikir lagi. Akankah dia membawa asosiasi dagang sedetail dan se-control freak tersebut?

Lalu, entah angin apa yang membawa lamunan saya yang sedang mengantri di lantai dua di darmawangsa square hari itu, tiba-tiba mendapat sapaan dari belakang terdengar suara..kanjeng kangmas wowiek apa kabar?

Wah saya kaget juga mendengar suara yang sangat familiar tersebut. Dia mungkin bisa dikatakan orang no 3 bahkan nomor 2 atau bisa-bisa sudah jadi orang nomor 1 dalam jajaran holding pada organisasi bisnis sahabat saya yang baru saja mendapat mandate memimpin asosiasi dagang nasional tersebut.

Hari itu saya sedang mengantri untuk terapi sakit di pinggang saya karena salah gerak. Dan sahabat saya tersebut sedang akan membeli alat olah raga yang kebetulan sebelahan dengan tempat terapi saya. baru mendapat kabar dan baru mengucapkan selamat bertugas kepada sahabat saya, ternyata salah satu orang kepercayaannya 15 tahun terakhir atau juga tangan kanan nya ada tepat berdiri dibelakang saya. dan terjadilah dialog ini :

Mas, sudah siap organisasi di tinggalkan RP? Saya langsung tanyakan hal yang menjadi pikiran saya setelah sebelumnya kami berdua saling memberikan kabar singkat.

Lah ini mas, saya sudah menyusun roadmap kedepan tapi saya kok ngak berani mengutarakannya ya? Aku mbok di kasih suntikan jadi orang yang tegas gitu loh sama boss kita itu.

Saya tertawa, karena kata-kata "boss kita" ada benarnya karena kami berdua pernah kerja bareng di bawah boss tersebut, sahabat lama saya tersebut. Dia melanjutkan, perusahaan itu kayak di "kekepin" di ketiaknya mas. Apa saja harus lewat dia, apa saja harus mulai dari dia. Bener-bener top down. Full direction dan full control.

Dia sampai saat ini belum bisa melepas mempercayai team nya. Dia begitu takut jika tidak mengendalikan perusahaannya. Dia juga merasa tidak ada yang bisa menggantikan kemampuannya. Kenapa begitu ya mas?, dia berkomentar dan sekaligus bertanya kepada saya.

Juga dalam bisnis saya merasa dia mulai melakukan pengulangan cara lama dan pola bisnis lama padahal banyak hal baru yang dia segan melakukannya. Atau tidak mau melakukan terobosan baru. Jadi organisasi agak sedikit stagnan, hampir semuanya turun performanya. Dia melanjutkan sedikit komentarnya

Begitu ya mas? Apa sudah kena "Pygmalion syndrome" dia mas? Saya balik bertanya

Pygmalion syndrome iku opo kang mas? Sampean ini kakehan kebanyakan ilmu bisnis sampai saya ngak ngerti istilah Pygmalion iku , katanya dengan gaya solo halus khas kesehariannya.

saya pun mulai bercerita, Iya, ini sedikit hikayat yunani, ada seorang pematung kenamaan bernama Pygmalion. Suatu hari dia membuat patung wanita yang indah dari sebuah gading. Wanita cantik. Ternyata saking cantiknya dia jatuh cinta pada patung tersebut. Dia perhatikan, dia lihatin dia sempurnakan dan dia mintakan kepada dewa agar patung ini bisa hidup.

Pygmalion berdoa amat sangat hingga jagad dewa pun akhirnya menyetujui dan turunlah dewi aphrodite dalam sebuah malam persembahan dan menghidupkan patung indah tersebut menjadi wanita cantik bernama galatea. Dan mereka pun menikah.

Itu cerita singkatnya mas. Kata saya menutup dongeng yunani kuno tersebut.’

O, itu toh Pygmalion syndrome kangmas? Itu ilmu psikologi ya, tanyanya sambil mata berkhayal ngak tau kemana

Bukan, itu karangan saya saja mas, saya jawab sambil tertawa. Bagi saya itu hanya sebuah analogi agar saya bisa memahami sisi sebuah kasus sehingga dengan dongeng, cerita otak, saya bisa memvisualkan. Otak atau pikiran yang bekerja akan lebih gampang berjalan membuat solusi jika sudah terbentuk gambar. Dan dongeng adalah salah satu bentuk komunikasi pikiran yang mudah di cerna pikiran yang bisa membuat sebuah bayangan imaginasi.

Dengan saya asosiasikan peristiwa tadi dengan sebuah cerita Pygmalion dan galatea maka mudah bagi saya mencari solusinya. Itu jika di tanya loh

Jadi solusinya dengan organsasi kita yo opo kangmas? Galateanya si perusahaan bisnis dan posesif nya bos RP semua benar, semua ya bener, sindrom opo tadi, Pygmalion, ya pas sudah.

Seberapa dia berani merusak atau ”break pattern “ terhadap kebiasaan RP mas?

Wah saya ngak bisa bilang pasti. Kalau dalam terobosan bisnis dia jagonya, tapi kalau dalam kerajaan yang dibangunnya warna dan kebiasaan sama dalam 20 tahun ini. Ngak banyak berubah. Yang berubah di maneuver bisnisnya di luaran.

Faham saya, o begitu ya, saya menjawab sambil berfikir.

Tapi bener loh kangmas, saya perlu saran sampeyan sekarang ini.

Begini deh, saya kasih gambaran singkat kemampuan destructive itu harus di lakukan, break pattern itu penting. Ilustrasinya begini :

Sebenarnya salah satu tugas leaders , salah satu tugas utama pemimpin bisnis adalah MERUSAK bisnis.”

Ketika saya bicara seperti itu saya perhatikan wajah sahabat saya heran.

Dalam sebuah periode bisnis seperti sekarang yang serba cepat. Kemampuan adaptasi yang cepat. kini seorang pemimpin bisnis memang tak cukup lagi hanya piawai membangun bisnis, ia juga harus piawai “MERUSAK” bisnis. Steve Jobs piawai “merusak” Apple dari Apple 1.0 yang hampir bangkrut menjadi Apple 2.0 yang gagah perkasa dengan iPod, iPhone, atau App Store-nya. Di Indonesia kita punya Ignatius Jonan yang piawai “merusak” KAI 1.0 yang lelet menjadi KAI 2.0 yang gesit.

Ingat sahabat kita pak Emir Satar ex garuda. Yang di demo pramugari dalam 4 bulan pertamanya bekerja di garuda. Dia menebas salary cap para pramugari, di tahun ke tiga bekerja gajih mereka turun bukan naik. Dengan kata lain pak Emir ingin semua pramugari muda usia, fresh, segar.

Jumlah crew pesawat turun costnya. Lalu dia mempercepat ground handling di darat dengan mesin baru, mahal namun cepat sehinga delay time garuda nyaris nol. Dan membuat market share naik. Itu adalah seorang CEO yang memiliki kemampuan destructive.

Sebaliknya perusahaan-perusahaan yang dulu hebat seperti Kodak, GM, Nokia, atau Sony terus-menerus babak-belur mengalami kemunduran karena tak kunjung menemukan CEO yang mampu “merusak” fondasi model bisnis yang kini sudah tak relevan lagi.

Karena itu seorang CDO (“Chief Destruction Officer”) kini adalah sosok yang paling diburu perusahaan-perusahaan di seantero jagat raya. Jadi RP saya sarankan mencari seorang CEO yang memiliki kemampuan visoner mengadaptasi 20 tahun kedepan dengan tindakan nyata sekarang. Dan RP harus ikhlas dan memberi izin profesional membuat “sculpture” patung baru. Galatea baru. Dan jangan pernah jatuh cinta kepada karya sendiri. cinta boleh, jangan “jatuh”. Saya mendongeng lagi sambil berfilosofi.

Mau contoh lain lagi? Layanan surat pos “mati” dimakan killer app baru seperti email, SMS, dan ATM.
Kodak yang lebih seratus tahun perkasa kemudian “dihabisi” oleh layanan photo sharing yang diberikan perusahaan start-up anak kemarin sore seperti Instagram. Toko kaset legendaris Aquarius Mahakam di Blok M tutup “dibunuh” platform baru seperti iPod-App Store,menyedihkan?!.

Untuk bisa survive di tengah perubahan yang kaotik tersebut kuncinya terletak pada satu kata: “PENGHANCURAN”. Untuk sukses di era light-speed changes Kita tak boleh segan-segan menghancurkan sendi-sendi kesuksesan masa lalu kita: “break with the immediate past”. Kenapa? Karena barangkali formula dan sendi-sendi kesuksesan tersebut sudah tak relevan lagi sekarang.

Salah satu solusi Pygmalion syndrome harus diberikan obat penawar dengan membuat organisasi di pimpin professional baru yang memiliki kemampuan men-destruc dan meng-constuct baru. Memiliki kemampuan merusak semua yang tidak relevan dan membangun galatea baru yang sesuai jaman.
Emang ada orang dipasar yang available seperti itu mas? Tanya nya lagi.

Ada, kalau RP mau. Saya memberikan nama sahabat baik saya. seorang CEO handal, pernah di indosat, dan excelcomindo. Tamatan ITB Harvard business school. CEO caliber. Kalau saya hubungi pasti dia mau, setidaknya menjadi perhatian. Bagaimana? Ok mas, namaku di panggil aku tak masuk dulu terapi ya. Suwon, keep in touch kata saya sambil pamit, salaman dan bergerak masuk keruang terapi. # may peace be upon us