Tampilkan postingan dengan label Cerita Pagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pagi. Tampilkan semua postingan
Mardigu Wowiek: EXTRAODINARY YANG DIULANG

Mardigu Wowiek: EXTRAODINARY YANG DIULANG

Kebenaran adalah kesepakatan bersama yang diulang-ulang. Misalnya di Indonesia, kita memilih sisi jalanan di sebelah kiri, di amerika yang anti inggris ketika jaman perjuangan kemerdekaan amerika karena ingin melawan hegemony penjajahan ingris bentuk perlawanannya adalah inggris jalan kiri amerika sisi lain, ambil jalan kanan.
Indonesia ambil jalan di jalur kiri ketika kita berpapasan dengan orang disisi depan yang menuju ke diri kita.
Karena itu bagi orang Indonesia mengambil sisi kiri adalah kebenaran.
Sekali lagi, sesuatu yang disepakati secara sosial atau disepakati secara kultural, atau sebuah kebijakan pemerintahan dan diulang-ulang dalam jangka panjang maka itu menjadi kebenaran.
Doktrin dalam sebuah “isme” menggunakan cara ini agar di sebut kebenaran, disebuah wilayah. Tentunya penguasa yang otoriter mempercepat “isme” nya jadi kebenaran. Pengulangan-pengulangan informasi yang “diarahkan” dengan maksud tertentu adalah “jalan” menuju kebenaran baru yang akan di bangun.
Ok, bagi sahabat yang mengenal gaya sindiran saya pasti sudah mulai faham kemana arah tulisan kali ini.
Mengkritik pemerintah yang seneng propaganda dan menguasasi opini media? ! Ya engak lah haha. Mentang-mentang pejabat sekarang sering menggunakan media untuk mengarahkan pendapat akan “keberhasilan” mereka bekerja atau membangun dan selalu menutup-nutupi sisi “ancaman”. Ngak akan saya ngomong begitu dalam tulisan ini.
Yang saya maksud kan dalam kesepakatan yang diulang ulang adalah bagaimana kita memiliki “brand” / merek dagang yang tangguh, kuat melekat serta memiliki nilai “komersial” yang kuat.
Brand atau merek dagang coca cola misalnya adalah merek terkuat di dunia saat ini.
Bagaimana membangun nya? Panjang, persistence dan memakan biaya langsung dari perusahaan dan biaya tidak langsung atau “social cost” yang besar sekali. Semuanya karena satu hal, dari sejak awal hingga setersunya selalu men”deliver” extraordinary product.
Pengulangan atas kesepakatan (rasa, kemasan, citra posistif) yang extra ordinary itu kuncinya.
Jadi brand itu apakan “nama”? seperti nama asep, nama budi, nama iwan, nama bambang, apakah itu brand?
Asep yang memiliki 5 resto bebek goreng sudah 20 tahun yang rasanya enak dan murah itu baru brand.
Budi yang menanam ratusan ribu pohon di daerah tandus di gunung kidul selama 20 tahun sehingga sekarang gunung kidul menghasilkan hutan lebat dan menghasilkan air tanah yang banyak , itu brand.
Jadi, sekarang apa hal yang extraordinary yang sahabat ingin ulang-ulang? izin loh sama pakarnya brand pak Subiakto Priosoedarsono nyamber sedikit keilmuan beliau yang luar biasa. #peace
Mardigu Wowiek:: THE POWER OF JAMAAH

Mardigu Wowiek:: THE POWER OF JAMAAH

Koleftif power akan menyelesaikan banyak masalah dan mengambil banyak peluang menjadi bisa di “monitized”.
Untuk itu saya kepikiran, sepertinya saya selama 4 bulan kedepan akan turun langsung membuat siapa saja yang ingin saya mentori membuktikan secara financial materinya bertumbuh, juga ilmu entreprenuernya tumbuh.
Saya ingin bertemu dengan sebanyak mungkin mereka yang minat belajar dan minat menjadi makmur.
Satu syaratnya, taat perintah. Saya minta persetujuan untuk jadi otoriter selama 4 bulan, dan tolong taruh dalam pikiran terkecil dari diri kita, anda mau berkorban, siap mental, siap sabar, siap modal. Modal waktu, modal uang, modal tenaga.
Ada 3 hal yang akan saya kerjakan, yang akan saya lempar ke publik ownershipnya dan peluang suksesnya.
Ini bisnis real, ini bisnis nyata, ini bisnis pasti sukses, ini bisnis ada resiko, ini bisnis kuat nafas panjang, ini bisnis besar.
Modal materi? Ya ada sedikit, ada seperlunya, bisa juga besar. Tergantung seberapa sahabat berani dan percaya pada program ini.
Yang saya jual adalah pengalaman saya, yang saya jual adalah network saya, namun saya tidak menjanjikan keuntungan pasti atau besar.
Yang saya janjikan adalah ilmu dan peluang lainya menanti anda dengan cara yang sama anda bisa duplikasi hal ini.
Sebelum datang kita ketemuan, saya hanya mengingatkan, berani “berinvestasi” dengan saya? . izinkan saya bertanya selanjutnya, “It’s not how much money you can get, but how much money you willing to sacrifice”
Bukan berapa besar uang yang anda akan peroleh, tetapi berapa yang anda beradi “korbankan”.
Mohon izin untuk mengatur pertemuan sekitar 2 jam bersama saya. Saya akan urai apa yang akan kita lakukan. Ada yang mau meluangkan waktu tersebut? Di tunggu kabarnya.
Mardigu Wowiek: SAYA SEPERTI ANJING

Mardigu Wowiek: SAYA SEPERTI ANJING

Kamu enak mas team kamu seperti anjing semua lah saya, beda!! Sebuah perkataan yang membuat saya bingung karena tidak faham kalimat yang di bicarakan seorang teman saya yang sedang mengeluh akan bisnis nya bidang oil n gas yang rontok dalam 2 tahun terakhir.
Dia menceritakan bahwa dari sales selama 15 tahun ber bisnis distribusi peralatan perminyakan dimana dia memliki kapal dedicated untuk bisnis perminyakan akhirnya rontok juga 2 tahun ini. Dimana kemarin sore saya memenuhi undangan perayaan acara ulang tahun ke 17 perusahaan pegawai tinggal 15 dari 150 pegawai dalam 2 tahun terakhir.
Sama dengan keluhan pengusaha lainnya di bidang oil n gas dimana kebijakan pemerintah saat ini jelas-jelasan tidak memihak swasta nasional, ya orang seperti kami, rontok semua.
Bukan oil n gas nya yang saya mau bicarakan, pemerintahan ini memang tidak pro swasta menengah kok, ngak faham pemutar roda ekonomi kelas menengah, entah itu darmin, entah itu mega bintang menkeu apa lagi rinso sama LBP, waduh, jauh panggang dari api buat meningkatkan ekonomi kelas menengah swasta nasional, males sudah saya ngomong.
Yang saya mau bicarakan istilah team saya seperti “anjing” ini perlu penjelasan.
Sebentar mas, saya belum bisa move on dari berfikir kenapa team saya di bilang seperti anjing?!. Demikian saya memerlukan penjelasan.
Orang dihadapan saya ini bukan ahli manajemen, ini pengusaha kawakan oil n gas. bidangnya tajam dan unik, Cuma 3 perusahaan seperti dia di indonenesia. Jadi istilah “anjing” ini saya perlu penjelasan.
Begini mas, dia berkata kepada saya. team saya , banyak saya ambil dari kampung halaman saya di ngayogjakarto hadiningrat. Saya sudah bergenerasi disana. Pegawai saya semua orang jogja. Karena saya kenal sekali tabiatnya. Say atahu mengendalikannya, me-manage nya.
Mereka seperti sapi, kebanyakan sifat orang jogja kalau bekerja seperti sapi. Beda banget dengan team anda mas (dia menunjuk kesaya), seperti anjing sifatnya.
Mendengar kalimat itu saya melipat alis. Opo maneh iki ?
Dia melanjutkan, begini mas, sifat pekerja seperti sapi itu begini, sapi itu ngak mau di naikin, ngak mau di kendarai. Mereka kalau maju harus di tarik hidungnya. Di cocok hidungnya dan di tarik. Di kasih makan, di kasih kandang , di rawat dan kerja harus di tarik tarik.
Karena itu saya sebagai pengangong harus menarik terus mereka. Sekali berhenti menarik, mereka berhenti juga kerjanya. Karena itu UMR di jogja murah, tapi kalau ngak ada yang ngangon yang ngurusi, mereka diem saja. Jangan harap bekerja cepat, slow. Harus di tarik lagi, di manja lagi. Kita pergi misalnya, mereka diem lagi, slow, santai, jagongan. Datang lagi bossnya, di kasih makan, di tarik lagi, kerja lagi.
Karena dalam bisnis saya perduli pada biaya murah, wong yogjo cocok, kayak aku ini, katanya dengan bangga ke jogja an nya. Lah anjing? Saya tanya
Iya mas, saya perhatikan lama, team mu itu kayak anjing semua. Di lempar tulang, di kejar. Di lempar bola di kejar. Pokoknya bonus besar, kerjaan sulit di terjang, bahkan ngak ada sampeyan mereka kejar dan kerjakan, pokoknya duit gede, bonus gede, apa saja di uber, dikerjakan.
Dia melanjutkan, Lah type sapi? Percuma di kasih fasilitas, bonus gede , tetep ngak jalan cepet mereka. Di tarik di openi di urusi kebutuhan dasar, sudah cukup. Karena itu murah mengelola sifat sapi kalau tahu “mengelolanya”. Lah yogjo…
Dia menambahkan, saya mending sapi loh mas bener, type anjing saya ngak berani aja. Kalau sampeyan memang secara pribadi type-nya anjing juga makanya pasukannya podo haus darahnya. Jadi type anjing saya ngak bisa kelola, Apa lagi type kuda wuuihh saya ngak bisa, dan saya paling males saya adalah type perkutut..beeeeehhh, atret-mundur saya.
Sebentar kang mas, itu type kuda sama perkutut bagaimana lagi maksudnya?
Dia kemudian menceritakan panjang lebar beserta contoh bisnis dan perilaku menarik dua type ini.dalam hati saya komentar, seru seru..jurus baru bagi saya ini!!. eh..ngomong-ngomong memnag pada minat tahu type 2 lagi tadi, “kuda sama perkutut”?

Sepandai-pandainya orang yang multi talent, masih kalah sama orang yang multi face ( muka dua)

Wowiek asshole? Sepertinya bukan barang baru di dengar tapi rasanya itu sudah “past tense” deh. Kalau saya mengukur diri saya seperti di usia saat ini “value” saya sudah bergeser. Ini menurut saya loh. Mungkin saya salah namun saya berusaha keras untuk tidak menjadi seorang asshole, dalam bisnis tentunya.

Sebagai seorang yang selalu lapar, membuat orang di sekeliling saya gerah. Mereka banyak bertanya..ini orang (wowiek) apa yang di cari sih?! Kalimat seperti itu pastinya banyak muncul dalam benak orang di sekeliling saya.

Kalau rumus “been there done that” hampir semua pernah dilakukan, pernah disana. Lalu apa yang dicari sekarang? Legacy peninggalan kepada anak cucu? Mau membuktikan kepada dunia bahwa ada seorang namanya wowiek..mau jadi legenda?! Kenapa sampai saat ini masih menekan (orang dan diri sendiri) ke batas limit.

Setahu saya, seorang asshole sulit bertahan lama karena selalu mementingkan ambisinya. Dan yang dilupakan untuk mencapai ambisinya biasanya “injek kaki” orang, ilmu kodok deh, sikut, injak!.

Sementara kalau ke atas, “kissing ass” jilat pantat pejabat, atasan..semua di service habis. Apa kata pemegang kekuasaan adalah kebenaran tertinggi. Pejabat minta apa adalah sebuah komando wajib taat. Seberapapun aneh permintaan tersebut. Yang penting izin keluar, kontrak dapat, fasilitas di percepat.

Jadi kesimpulan saya “being an asshole” hanya jangka pendek. Kalau saya mau bermain panjang, hidup enak tanpa tekanan, rubah menjadi seorang yang tahu batas. Dan ngak gampang bagi orang seperti saya ini. Bahkan kalau saya teringat kembali ke sebuah masa dimana saya harus survive plus bisa mencicil beban hutang. Saya dari seorang entrepreneur, balik lagi ke sisi pegawai walau sulit pekerjaaanya saya terima.

Seorang sahabat yang dulunya pernah jadi karyawan saya memiliki jalan hidup lebih baik dalam mengambil keputusannya. Dia menjadi pemilik sebuah perusahaan besar dan meminta saya bergabung dengan posisi asosiate director selama 2 tahun kontraknya. Tugas saya utama, menciptakan disiplin dan ketaatan dalam perintah, militansi.

Dan wowiek seorang asshole, perkataan saya keras dan lantang, rasanya Cuma Ahok kualitas hardikannya di atas saya. karena walaupun saya juga menggunakan “high tone language” saya tidak pernah pakai makian goblok, danisi kebon binatang! Saya main pecat, cut off, fired!

Mas, saya belum pernah memimpin 200 staff professional yang 60% nya graduate oversea student. Bisakah mas wowiek bantu saya mengendalikan perusahaan sampai mereka fit? Itu adalah kalimat yang keluar dari mulut employer saya ketika saya akan bergabung. Saya di suruh membuat 200 staf yang 60% nya merupakan lulusan luar negeri dengan gelar sarjana sejajar master, taat dan disiplin. Dan bagi saya itu bukan hal aneh atau baru. Saya pernah memimpin dengan typology pegawai sebanyak ini dan mirip ini.

Kalau di bayangkan seperti di perusahaan multi nasional bukan? Seperti bekerja di Citibank, bekerja di Cevron dan sejenisnya. Namun ini perusahaan swasta nasional. Pemiliknya swasta nasional dan berbisnis multinasional.

Jadi baru 1 bulan bekerja 30 manajer sejajar merasa gerah dengan saya. disiplin dan tekanan setiap saat saya berikan, mulai dari sales marketing, pembukuan, pajak, legal, HRD, produksi saya tanya semua harus tahu PNL perusahaan base on daily performance.

Bayangkan, setiap manajer harus tahu PNL profit and loss perkembangan bisnis perusahaan setiap harinya. Begitu pembukuan hijau saya puji, begitu kuning saya mulai “control freak”. Begitu merah..seseroang akan saya pecat!

Saya buat target pembukuan harian!

Di hari pertama saya bekerja sudah saya suruh mereka buat target pekerjaan harian yang di hubungkan dengan bagian keuangan. Itu kerja ekstra, banyak yang “reluctant” ngak mau mengerakan pantatnya sewaktu keluar dari lidah saya perintah itu. Mereka tanya..siapa luh? Kalau gw ngak kerjain lu mau apa? pecat gw…benar bung!..saya eksekutor terbaiuk urusan lay off karyawan. Apa lagi yang ngak produktif dan mempunyai “bad influence”. Mereka pasti ngak suka saya. dunia nya lain, species kita lain,. Dan saya predator species malas dan pemangsa orang yang “bad influence”.

Tapi bagi penghasil profit, walau saya ngak nyaman, mereka tetap saya kasih hak nya, pujian ataupun material seperti bonus, gajih, bahkan jabatan.

Hingga akhirnya mereka menghadap direksi, ber 30..para majaner jajaran middle manajemen tersebut memuncak marahnya kepada saya.

Mereka meminta waktu share dengan direksi. Waktu itu kebetulan 2 direksi dan 1 komisaris ada di kantor. Posisi mereka memenag bisa membuat siapapun naik pangkat atau sebaliknya, angkat koper dari kantor.

Seingat saya mereka duduk di meja meeting melingkar. Semua wajah berhadapan dan kebetulan memang ruang meeting nya besar. 3 direksi berhadapan 30 manajer dan VP.

Mas wowiek, kata satu direksi. Tunggu diluar, kayaknya anak-anak pada marah dan mau share dengan saya. nanti saya kode baru mas masuk keruangan ya.

Saya mengangguk. Tidak ada rasa gentar tuh dalam diri saya. biasa saja. Padahal saya tahu di dalam ruangan tersebut nantinya akan ada kalimat makian, hujatan, kekesalan pasti keluar dari mulut mereka. Suasana pasti panas.

Jam lima , alias 2 jam setelah mereka berada di dalam, saya dipanggil. Saya masuk ruangan memberi salam sapa yang hanya di jawab oleh 3 orang direksi yang duduk di kiri saya. saya di persilahkan menjadi orang ke 4 di hadapan 30 orang manajer level tersebut. Wajah mereka masih merah dan tegang. Namun ada kepuasan dari ekspresi mereka. Dan sepertinya wowiek akan tuntas, selesai pada hari itu.

Saya duduk biasa saja. Lalu satu direksi yang di tengah yang merupakan presiden direktur berjalan pelan kebelakan. Di meja belakan ada 2 buah buku telfon yellow pages. Dia ambil dan dia bawa pelahan kembali ke mejanya, dan ketika dekat meja..buku telfon tebal itu di banting ke meja meeting!

Gubraaak!!! Saya ber tiga yang paling dekat dengan bantingan buku tersebut sampai kaget. Pastinnya 30 orang di depan saya juga kaget, Suara keras sekali dan lalu dia bicara dengan nada ngak kalah keras ( catatan, dia tidak pernah begini sebelumnya)..dari tadi saya mendengar kalian berbicara keras, kasar dan provokatif terhadap orang yang namanya wowiek, si asshole ini (dia menunjuk muka saya).

Kamu semua baru di tekan sebulan sudah banci semua, manja semua..saya dulu 2 tahun sama dia…tiap hariu jam 8 sudah denger ocehan dan omelannya, pulang jam 11 malam baru bisa dan jam 7.30 sudah dikantor lagi terus menerus selama 2 tahun. Apa gw ngak gila di bawah dia! Gila, marah kesal..sama seperti kalian, tapi saya tidak mengeluh!..ini sekarang saya jadi begini, dan ini (dia menunjuk satu direksi) adalah hasil makian, tekanan asshole wowiek!!!

Kalau kalian tidak setuju dengan tindakannya…sebaiknya aklain resign saat ini juga, hari ini juga. Tapi kalau kalian disini…ikuti dia. Katanyua sambil menunjuk ke saya. suasana jadi terbalik, saya yang kikuk sekarang. Dan ketiga puluh orang di hadapan saya ekspresi wajahnya berubah. Yang tadinya merah marah dan percaya diri, menjadi diam, dan pucat.

Suasana hening seketika. Sampai terdengar suara komisaris yang santun berkata, ok, pertemuan selesai, kami ber empat akan melanjutkan meeting lagi. Kalian boleh keluar.

Satu-satu antrian keluar ruangan. Tinggal kami berempat. Tak lama kemudian, 3 tangan menggulurkan kesaya. Terima kasih mas, kehadiran anda memang untuk itu, “bad cops”..tapi setelah kami timbang-timbang..mas juga harus berubah, kekerasan juga kali ya mas apa yang mas wowiek lakukan. Mas bisa berubahkan? Kalimat santun dari 3 sahabat saya jabat erat.

Dan saya berkata..maaf ya apa yang saya lakukan dulu..kayaknya kalaian merasakan hal yang lebih keras lagi ya di banding mereka. Tapi kalian melakukan saat ini ribuan kali lebih baik dari saya. saya akui performa ketiga sahabat itu habit sekali. Yang saat ini, 16 tahun kemudian ketiganya masih bersama, dengan jalan hidup yang akan mereka tempuh kedepan berlainan namun saling dukung. Bravo!! 

(Tulisan Pagi) “ Masalah?.. jangan di perpanjang, kan bukan STNK

Halo, nice to meet you juga, balasan sapaan ringan saya kepada kenalan baru. Kemarin saya mengadaan pertemuan yang saya memang sangat inginkan. Lebih di karenakan faktor perlu nya izin dan konfirmasi agreement dari sebuah perusahaan BUMN yang bernama PLN.

Dihadapan saya ada seorang wanita muda menjabat sebagai posisi manajemen madya di perusahaan tersebut di dampingin koleganya. Dari awal mengenalkan namanya lidahnya sudah memberikan nada bahwa dia berbahasa ingris bisa lancar karena logatnya ke barat-baratan.


Kalau kita berprasangka buruk ini orang seperti cinta laura tapi tidak selebay itu juga. Tidak berlebihan, santun dan pemilihan kata-katanya menunjukan ya memang aslinya begini. Yang setelah di skusi ringan saya mengetahui bahwa 10 tahun awal hidupnya memang berada di eropa mengikuti kerja orang tuanya. Di usianya 25 tahunan ke melayuan lidahnya belum terbiasa juga. Kayaknya makananya kurang banyak santan dan cabe kali ya, jadi belum melayu-melayu juga.

Tapi ngak juga seperti banyak anak-anak kaum borjuis yang sudah mulai karena sejak usia bayi, usia SD danSMP tiap hari berbahasa ingris dan bahasa ibunya bahasa indonesia jadi bahasa kedua. Agak lucu sih karena kita tahu kedua orang tuanya melayu, yang vocabulary bahasanya hanya sedikit dan disekolah sang anak berinteraksi di lingkungan sekolah yang juga berbahasa inggris.

Anak ini bisa bahasa inggris baik, namun janggal kalau ngomong sesama orang indoensia berbahasa inggris. Vocabulary bahasanya hanya bahasa pergaulan, terdengar keren oleh beberapa orang, tapi banyak yang jengah juga sih. Tapi mungkin saya saja ya kali ya. Yang sok nasionalis dan belum bisa terima konsep “world citizen” warga Negara dunia. Okeh dari pada pagi-pagi ngegosip selingan lebih baik balik ke urusan perlistrikan.

Saya belum jadi pengusahaan dunia pelistrikan atau energy. Tapi niat kearah sana ada banget. Kerena yang penting kan niat ya, jadi suatu saat memang mengalir kesana termasuk pertemuan kemarin ini. Saya di bawa dan di kenalkan oleh sahabat senior saya, bapak Eden dia asli sumatera utara , itu pasti bisa terlihat dari nama marga yang tertera pada nama belakangnya.

Pertemuan yang membahas PPA purchase power agreement ini lah mempertemukan saya dengan gadis muda manajer madya di depan saya. cantik, santun, berlogat dan sering menggunakan istilah inggris ini. Ketika dia mengulurkan namanya, hai pak, saya nirwana. Nice to know you pak…jeda sebentar mardigu wowiek?!

Iya mbak benar, dilanjut dengan kalimat di awal tulisan..halo, nice to meet you juga. Ini menjadi jawaban standar saya dalam dialog awal dengan para gadis, nice to meet you..yang membuat saya sering melihat benda yang Tuhan berikan pada wanita yang bernama TUMIT. Jadi..memang mbak nirwana ini tumitnya bagus. Jadi saya ngak bohong yang bilang “nice to meet”, benerkan ? (piss hehehe)

Lah memang bagus kok tumitnya..bagaikan lancip bulir beras. Halah..panjang deh cowo kalau mulai bicara tumit cewe.

Saya dapat nama jauh haru dari boss Eden ini katanya sambil melirik pak eden yang selalu tersenyum. O iya, ini kolega saya, Firdaus. Dia bagian studi pasar dan bagian lapangan terutama urusan RUPTL.. Saya pun mengulurkan tangan saya kepada pemuda lebih tua an usianya dari mbak nirwana ini namun sejajar posisi manajemennya. Wajahnya datar dan agak sedikit pelit senyum, kesan pertama agak tidak ramah dan kaku.

Saya tahu orang inilah (firdaus) sebenarnya yang menjadi orang yang akan saya hubungi di kemudian hari terbanyak.posisinya saya butuhkan untuk hal-hal yang nantinya akan menjadi kebutuhan dasar perjanjian kerjasama. Kebiasaan saya pada membangun “personal attachment” atau kedekatan pribadi memang harus di bangun sejak awal pertemuan namun terlepas dari “apple polishing” atau menjilat. 

Dua hal yang penting, menetukan “feeling” siapa yang “informal leader” pada pertemuan ini harus terbaca dari awal, kedua membangun kenyamanan orang tersebut tanpa terlihat kita butuh. Nah..urusan lengkapnya para play boy ngerti deh..mirip-mirip dunia lover boy kalau menentukan gebetan dan melaksanakan “mengapelan PDKT”.

Rumus : jangan terlalu menyerang, jangan terlalu lebay. Di bisnis…sama brader, ya kayak begitu juga.
Silahkan duduk bapak-bapak , kalimat lanjutan dari mbak nirwana. Kamipun berbarengan merebahkan diri di kursi yang melingkari meja bundar di sebuah kafe bilangan senopati, Jakarta.

Nah disinilah kebiasaan saya sekali lagi di mainkan. Saya biasanya membuka dengan sesuatu yang informal, yang santai. Otak masih di “tumit yang nice sih” hahaha tapi lidah ada di maneuver lain..

Wah sebuah kehormatan bagi saya hari ini..sungguh sebuah kesempatan langka bisa duduk bareng dengan 3 orang luar biasa yang “chance” pertemuan ini adalah “a million to one” satu dari 1 juta kesempatan. Saya harus beri aplaus tepuk tangan panjang nih hahaha..saya ketawa sendiri di tatap 3 orang setengah heran.

Mungkin di kepala mereka nih mardigu wowiek lebay amat sampai bilang kesempatanya 1 dari sejuta peluang.

Bapak ini ada-ada saja kata mbak nirwana, juga pak firdaus menimpali, buktinya apa boss..
Saya tatap balik ketiganya..loh pak banyangkan posisi orang seperti saya, atau mungkin bukan saya deh, orang lain yang sedang bertemu bapak ibu bertiga juga akan bilang yang sama kalimatnya.

Wajah ketiganya terlihat kebingungan yang saya lanjutkan ..pak bu, saya bagaimana yang bilang terhormat dan merasa tersanjung hari ini, saya duduk di lingkari eden, nirwana, firdaus..hanya beda terminology saja namun artinya sama. Apa ngak hebat saya berada disana. Orang lain mungkin nunggu di hisab perhitungan di akhir jaman baru bisa merasakan, saya sekarang di lingkungan itu,berada dekat eden, nirwana, firdaus…

Itu asli loh…mendengar saya ngomong begitu mereka bertiga meledak tawa terpingkal-pingkal sampai pak eden terkekeh-kekeh panjang mengangin perut. Dan mbak Nirwana menutup tissue mulutnya untuk menghalangi sedikit tumpahan muncrat t air seduhan tehnya, yang di tunjuk-tunjuk sama pak firdaus sambil terkekeh. Saya sih senyum senyum saja, dan dalam hati..nah, kena deh semua..lanjut ngelobby dulu yah..‪#‎maypeacebeuponus‬

Cerita Pagi Mardigu Wowiek (VI)

Saya mengambil posisi berdiri diam, setelah saya perlahan meletakan double stick di meja. Dilanjutkan oleh edy berkata dengan nada kesal : loe di bantu tinggal disini bukan berarti loe bisa merusak barang milik orang tau ngak loe!. Yang loe pecahin itu pemberian bokap gue. Itu kenang-kenangan yang selalu gue taruh dekat tempat tidur. Itu hanya gelas bagi banyak orang tapi itu gelas pemberian almarhum bokap gue.

Ngak ada yang tahu ikatan emosi yang gue punya disaat dia berpulang meninggal 4 tahun yang lalu. Dimasa SMA gue. Dimana kehadiran seorang ayah gue butuhkan banget. Dia selalu ada disamping gue dan dia hilang disaat gue lagi butuh dia. Tuhan ambil dia disaat gue butuh sandaran.

Edy bicara dengan nada bergetar, suaranya menjadi parau, menahan tangis di gabung kekesalan memuncak di hatinya.

Saya serba salah, dan salah besar. Saya menundukan kepala.

Loe kata dengan diam masalah selesai? Edy melanjutkan

Dimana hati loe heh!..waktu SMA gue melakukan hal yang sangat buruk, gue mencoba-coba narkoba, gele, ganja, gue kecanduan. Tapi bokap gue 24 jam ada di samping gue tidak menyalahkan gue dan menjadi shoulder to cry gue.

Keluarga gue keluarga biasa aja, gue pakai narkoba bukan marah sama orang tua, gue yang ngak tau diri. Coba-coba, jadi kecanduan. Tapi bokap gue selalu mendukung dnegan tiap hari bersama. Olah raga, main, diskusi, apa saja, banyak yang gue ngak bisa ceritakan. Dia terus menyemangati gue. Dipuncak ketika gue masih dalam proses penyembuhan, bokap kasih gelas itu..gelas kehidupan semacam trophy piala pengingat bagi gue.

Gelas itu sama bokap di isi air. Lalu bokap ambil pisau. Dia belah air itu dengan pisau. Air itu tidak bisa terbelah, menyatu kembali. Bokap gue bilang : anakku edy, hatimu ibarat gelas cawan ini. Isilah dengan air cinta. Air tidak akan bisa terbelah, tidak bisa terluka. Setiap goresan yang dilakukan dia menutup kembali.

Dia contohkan dengan memotong air dengan pisau tadi..air menyatu kembali. Edy berhenti sejenak dan dia terisak..dan loe pecahin barang yang bokap gue kasih sebagai pengingat gue akan dia dan pelajaran cinta yang dia berikan.

Hati gue hancur wiek! tapi gue harus memaafkan eluh..tapi bagi gue loe keterlaluan, bener-bener ceroboh. Elu bisa ngak ngebayangin dimana loe memiliki sesuatu yang sangat berarti dan harus hilang! , in deed sangat berartti. Bokap gue adalah teman gue dikala duka, dikala kesalahan menumpuk gue lakukan dia tetap di samping gue. Tanpa menyalahkan. Gue terpuruk dia disana. He is my best friend,loe tahukhan? Friend in deed is a friend in deep

My dad is a friend in deed…kemudian dia menangis tersengguk sengguk. Gila luh ya wiek..hati gue hancur banget wiek..kemudian dia duduk di sofa dengan bantal menutup wajahnya.

Saya juga ikut menitik air mata, perasaan bersalah, bingung, galau bercampur aduk. Kemudian saya berjongkok di kakinya, ed, sorry ed..gw ngak nyangka hal tadi yang gw lakukan salah dan berarti banget buat luh dan buat semua nya. Saya harus apa ed supaya bisa ngantiin semua ini. Gue siap ed, gue salah dan minta maaf dan memohon ikhlas lu.

Suasana ruangan hening kecuali suara tangis edy yang masih tersengguk. Sambil berkata, bapak, edy kangen pak. Pak maaf ya, gelasnya pecah pak, edy ngak bisa jaga amanah pak!..

Saya bingung harus melakukan apa berikutnya karena edy tidak merespon apapun dari perkataan saya tadi. Saya menatap sekitar, dino masih berdiri diam dengan tangan tetap melingkar bersilang didada namun kepalanya tertunduk dalam. Mas arman ambil posisi duduk di ujung sandaran tangan sofa, juga dengan tangan bersila dan menunduk. Agaknya keduanya menghargai posisi edy yang lagi gundah. Diam memang posisi terbaik. Saya pun hening di bawah bersila.

Edy bergerak perlahan menyandarkan dirinya kesofa dan menurunkan bantal menutup mukanya untuk mengambil nafas, wajahnya menatap ke atas kesuatu tujuan. Saya melirik kearah mana matanya menatap. Ternyata dia menatap ke foto di dinding. Foto dirinya dan ayahnya yang sedang berdua. 

Sehabis berolah raga. Edy di kiri, ayahnya dikanan. Tangan kanan edy di pundak ayahnya, tangan kiri ayahnya di pundak edy, senyum cerita tersungging di kedua foto tersebut. Dan di tangan kanan edy ada gelas kaca yang saya siang tadi pecahkan!


Dia menatap foto tersebut dan berkata, gue inget pesen bokap selanjutnya, dan selalu gue inget : anakku edy, air selalu mencari jalan kearah yang mudah di lalui dan selalu memcari kerendahan. Begitujuga hati mu, semakin rendah semaikin mencari kerendahan. Jadilah orang yang selalu merendah.

Air juga selalu mengikuti bentuk ruang. Dia flksible. Kamu dalam hidup dimanapun ikuti filosofi air ya nak. Ikuti bentuk dimana kamu bisa hidup. Yang cocok, itu yang survive. Air selalu bisa mencocokan diri.
Air juga selalu menukan jalan keluar tanpa melawan arus. Jaga air cinta di cawan hatimua ya nak..kemudian kembali edy menangis dengan menatap ke foto
tersebut..pak, edy ngak amanah ngak bisa memelihara kenangan bapak wujudnya, gelasnya pak. Maafin edy pak!

Kesegukan edy perlahan berkurang, namun semua memilih diam.

Ed, saya membuka keheningan, boleh gue minta maaf ya. Edy mengguk pelan. Lalu saya menyalaminya yang di sentuh ringan saja olehnya. Saya lalu ke kerankang sampah dan mengumpulkan pecahan beling gelas tadi.

Mau ngapain luh wiek? Edy bertanya

Mau saya coba sambung dengan lem ed, siapa tahu bisa balik lagi. Walau ada sambungan pecahan gelasnya walaupun ngak hilang. Tapi ini secara simbolik bisa utuh lagi, setidaknya bisa jadi pajangan.
Ngak perlu wiek, semua sudah lewat, semua sudah terjadi, gue yang harus memberi makna atas apa yang terjadi. Kenapa terjadi. Sementara untuk perilaku luh, ya loe juga lah yangmennaggung akibatnya. Lu menimbulkkan ketidak nyamanan, lu yang merasakan juga akibatnya. Edy berkata sambil mengambil tissue di meja.

Suasana pun mulai ada perubahan. Arman bergerak ke kulkas dan hendak mengambil minuman..eh, jeruk minuman gue siapa yang minum?

Saya mas. Saya jawab cepat

Dia berbalik menatap saya, terus lu ngak ganti?

Saya gelagepan. Maaf mas, saya ganti nanti ke warung depan ya ..

Jangan gitu dong, kalau lu melakukan sesuatu ya boleh saja tadi dino bilang tapi bukan berarti di habisin dan ngak di ganti. Kita di sini hidup bareng, berbagi itu biasa..bukan ngabisin, bukan satu sisi doang yang enak. Luh enak, yang lain rugi. Berbagi itu ya berbagi. Share

Saya masih setengah berdiri di dekat dust bin tempat sampah mencoba mengumpulkan pecahan gelas tadi karena saya tetap berniat menyambungkan kembali. Dan saya sudah di smash lagi dengan perkataan mas Arman akan egoisannya saya dengan menenggak habis minuman jus jeruk miliknya. # The Saga Continue

Cerita Pagi Mardigu Wowiek (V)

Wah, saya guilty sekali, saya merasa bersalah sekali. Eh loe tahu, ini disini hal-hal yang pribadi sangat di nomor satukan haknya. Suara loe nyanyi mengganggu mereka dan bisa-bisa dipanggil polisi kita karena mengganggu privasi orang.

Waduh maaf mas dino, saya ngak nyangka kalau ternyata suara saya kemana-mana. Maaf ya..sambil berbicara mata saya menyapu sisi lain ruang dimana sekilas tertangkap ekspresi wajah arman dan edi memberikan nada sama, tidak suka dengan perbuatan saya. aduh, saya menyesal sekali. Telah membuat seseorang yang membantu saya dirugikan. Saya menyesal tapi nasi telah menjadi bubur.

Nguing…tok tok tok. Ketokan keras seseorang di pintu basement kami di ketuk., di luar Nampak kilatan warna biru merah berkelap kelip keseantero sisi halaman belakang yang terlihat melalui kaca. Wah…polisi din, suara edy meningggi.

Dan saya pun panic. Wajah ketiganya menatap saya. asli guratan wajah mereka menjadi tegang dan memerah marah dengan mata tajam menatap saya. walau tak terucap namun pisau sayatan tatapan tajam tersebut cukup menancap di hati saya..gara-gara loe nih dasar orang kampung. Bikin susah orang ajah!

Tok tok tok…nada suara ketokan mengeras.

Coming!, arman menyawab sambil jalan kedepan.

Dia membuka grendel pintu dan wajah 2 polisi terlihat jelas sambil berkata : we have a complain that you guys make party and disturbing neighbor with loud noices. Ada seseroang melaporkan bahwa kami sedang berpesta menggunakan suara keras yang mengganggu tetangga.


Arman dengan santun menjawab, oh no sir..we have visitors, our relative from our back home Indonesia. He got excited and sing a song while taking a shower in bathroom. No party here what so ever, on behalf of my family, we do sorry. Tomorrow we will ask for the apologize to our neighbor ..mas arman dengan santun mengatakan ada saudaranya dari kampung yang kegirangan lupa diri nyanyi sambil mandi. Dia atas nama keluarga menyatakan permintaan maaf.

Huih, saya sekali lagi dilindungi oleh orang lain yang baru saya kenal yang menganggapnya “saudara” dan “keluarga” dimana dia mengambil tomgkat komando dengan mengaku salah dan bertanggung jawab. Aduh biung!! saya baru datang sudah merepotkan plus saya dua kali diselamatkan, semua dalam kurun waktu kurang dari 3 jam!..betapa bodohnya orang seperti saya ini. Betapa rendahnya orang seperti saya ini, ngak tau di untung. Dan sungguh, saya meyesal sekali.

Setelah polisi pamit dan pergi, mas arman membalik badan ke saya dan berkata..loe tidur sana. It’s too much for one today! Hari yang keterlaluan. Wajahnya datar dan nada sinisnya sangat mengiris hati saya dan saya terpaksa menerimanya, memang saya salah.

Badan saya rebahkan ketempat sofa, namun mata saya tak kunjung tidur. Saya merasa dan menganggap diri saya hina sekali. Menyusahkan orang yang membantu saya. bener-benar bodoh.

Saya hanya rebahan di sofa, badan lelah dan mengantuk namun tubuh saya menolak untuk tidur hingga matahari jam 5 tinggi sekali, karena ini adalah awal bulan mei, awal musim summer. Matahari di Negara 4 musim agak panjang waktunya di musim semi. Jam 5 pagi pun mata hari sudah tinggi posisinya. Apa lagi jam yang saya lirik terus menit per menitnya hingga menunjukkan pukul 8 saya belum tidur.

Sesaat kemudian edy bangun dengan tergesa-gesa dan langsung menuju kamar mandi. Saya pun membangunkan posisi tidur saya menjadi duduk dimana edy sempat menyapa sambil memberikan sedikit info. Wah, gw bisa telat nih..ada kelas jam 9.

Mendengar edy bangun maka mas dino dan mas arman bangun. 

Loe kelas jam berapa din? Arman menyapa..jam 10 di jawab mas dino. Eh..gw ikut loe ya. Mereka pun bersegera merapihkan buku, baju dan hal-hal kegiatan sekolah. Mas dino menyapa saya, loe ngak tidur wiek?

Ngak bisa mas? Saya menjawab sambil membereskan sofa bed.

Loe jetleg kali ya..eh, loe bisa masak? Tanya mas dino

Ngak mas, saya ngak bisa masak. Kenapa mas? Saya bertanya karena pertanyaan tersebut pertanyaan baru buat cowo seperti saya untuk masak.

Disini loe harus survive khan, makanya loe belajar masak. Kita semua berangkat ke kampus, loe ngak ada makanan. Loe bisa masak maka loe masak aja masakan di kulkas, kalo ngak bisa masak di depan apartemen ini ada toko kelontong kecil punya orang Vietnam, loe kesana ajah cari makanan. Mungkin ada sesuatu yang loe bisa makan. Loe urus diri loe sendiri ya. Gw bukan siapa-siapanya loe. Kata-kata tegas tersebut cukup jelas artinya buat saya. dan saya berterima kasih ada mentor seperti ini.

Tanpa terasa mereka berdua sudah mau berangkat dan edy sudah dari tadi menghilang tanpa pamit. O iya wiek..loe disini ngak bisa lama. Loe harus segera pindah. Bukannya loe senin sudah harus ke Menlo? Loe coba cari tahu jalan menuju kesana. Gw sama arman belum pernah kesana jadi loe urus diri loe sendiri. Senin itu 3 hari lagi..ini hari jumat.

Informasi itu penting sekali bagi saya, dan kalimat tegas seperti yang mas dino katakan membuat saya menyadari, hidup itu keras, hidup itu perjuangan.

Ok, gw cabut dulu ya pintupun di tutup keras, blek. Saya sendirian di basement apartemen. Saya membuka kulkas dan mencoba melakukan sesuatu untuk dimakan. Namun saya tidak bisa masak. Saya bingung, akhirnya saya coba improvisasi karena lapar. Roti, saya kasih olesan coklat, potongan keju dan daun slada. Semacam sandwich, namun ini ngaco. Saya asal saja. Begitu saya makan rasanya ngak karuan. Tapi ya saya harus makan, saya lapar. Ada sedikit jus jeruk di botol saya teguk hingga habis, maaf saya lapar sekali.

Setelah melahap makanan tersebut saya bingung tidak tahu harus kemana, ngapain..saya bingung mau Tanya alamat Menlo, kesekolah, keluar apartemen saya tidak berani. Jadi saya di dalam basement saja.

Dan karena tidak ada kerjaan, saya melihat ada double stick atau nunchaku. Entah milik siapa. Benda ini adalah mainan saya di kampung. Saya cukup mahir memainkan benda ciri khas bruce lee ini. Jadi sayapun mengayunkan benda tersebut. Dan tanpa sengaja..plang..stick menyambar gelas hingga pecah..waduh saya bingung jadinya. Saya kesel dan marah dengan diri sendiri. Kok bisa sih mecahin barang orang. Dasar geblek, kata saya memaki diri sendiri sambil membersihkan ampas sisa pecahan gelas yang berterbangan kesana-kemari.

Uuuggh..saya sebel sama kebodohan saya ini.

Sore tiba, udara mulai mendingin dan teman2 bertiga belum ada yang pulang. Kembali saya ambil double stick nunchaku tersebut. Lalu saya keluar ke halaman belakang. Ini adalah hal pertama bagi saya keluar basement, yaitu ke halaman sendiri dibelakang. Halaman kecil dengan pemandangan jendela-jendela apartemen tetangga.

Saya pun mulai mengayunkan benda yang di kenal dengan nama nunchaku itu. Tujuan saya mencari keringat. Membuat tubuh saya hangat di tengah mulai mendinginnya udara sore. Setengah jam waktu yang sebentar, namun cukup membuat tubuh hangat alias keringetan. Saya lalu memutuskan untuk masuk Dan ketika saya masuk ternyata ke tiga tuan rumah sudah hadir di dalam apartemen.

Saya menyapa ramah..selamat sore guys ! dan saya heran tidak ada senyuman atau balasan sapaan saya hanya tatapan ketiga orang tersbut semua ke satu arah. Kesaya. Saya tercenung. Mas Arman, mas dino melipatkan tangannya di dada, edy berkacak pinggang persisi di depan saya.

Dari gerakan wajah,maka bisa dipastikan edy kayaknya akan bicara duluan, hingga terdengar suara dalamnya..gini wiek.. loe tuh orang baru tapi perilaku loe bener-bener dah !!! . The Saga continue

Cerita Pagi Mardigu Wowiek (IV)

Terbayang 3 bulan yang lalu. Sebagai seorang perantauan, maka kehadiran di sebuah Negara besar adhidaya seperti amerika adalah hal yang sangat mengagetkan. Mungkin ini yang di sebut gegar budaya barangkali ya. Dari sejak awal perjalanan yaitu mengudara selama 24 jam didalam pesawat terbang dimana ini adalah perjalanan terpanjang dan pertama kalinya bagi saya kesebuah negeri tak dikenal.

Kemampuan bahasa yang ala kadarnya, ilmu yang sedikit, pengetahuan tidak ada sama sekali hingga akhirnya saya berdiri depan petugas imigrasi dibandara SFX san fransisco

Are you student? Dia berkata pelan

Yes sir, saya menjawab
Do you have your I 20?

Waduh, apa ya itu kata saya dalam hati. Kayaknya saya di ingatkan bahwa visa student yang namanya I 20 harus di lampirkan bersama passport. Saya lupa taruh dimana

Wait a minute sir, I forget ..kata saya dengan bahasa inggris terbata-bata.

Wajah nya berubah dari tadi yang tak ber ekspresi sekarang agak sebel. Keningnya berkerut. Dan dia berdiri lalu berkata

Don’t do this to me kids, I work double shift, this is already late, almost 12 o clock night, my second shift supportedly finish 1 hours ago and due to late your flight I am still working.

Do it fast, search yours stuff, I have family to take care off you know . waduh saya jadi grogi. Baru mendarat sudah mendapat gerutuan petugas imigrasi yang berwajah setengah tua dan berbadan gemuk.Keringat keluar dari tubuh saya yang memberikan aroma tidak enak. Petugas itu curhat betapa dia cape kerja dua shift dan masih tambah lembur gara-gara pesawat terakhir mendarat yang kebetulan pesawat saya terlambat 1 jam dari skedul.

Sorry sir, hanya itu yang bisa keluar dari mulut saya

You’re right! Katanya menghardik sambil membanting pantatnya kembali di bangku kerjanya.

Saya ingin cepat jadi back pack saya saya keluarkan semuanya, tergeletak di lantai, suara kemerincing coin, klontang! suara piring kenangan dari adik semata wayang, buku, baju, celana jeans, semua saya keluarkan di lantai sambil mata mencari dimana selembar I 20 visa student itu.

Petugas imigrasi tersebut berdiri dari bangkunya dan melonggok saya dari mejanya yang seperti mimbar panjang…ahh come on, what the hell are you doing?!. Its make a mess and people waiting in line..katanya sambil menunjuk beberapa orang mengantri di belakang saya. itu membuat saya makin panic.

Beberapa saat kemudian di bawah tatapan banyak mata orang yang tidak nyaman : Oh here you are sir..saya menyodorkan kertas tipis yang tertulis I 20. Dia ambil dengan kasar lalu menatap tajam dan mengetik sesuatu.

Saya dengan tergopoh-gopoh merapihkan secepatnya barang yang tergeletak di lantai tersebut. Ketika wajah saya menyembul di depan counter imigrasi tersebut passport saya dan lepitan I 20 sudah di tanganya. Dia memberikan passport tersebut sambil berkata, welcome to amerika kids, and you are very stinky Asian. Don’t have water in your country?

Waduh, ngeledek nih orang, menganggap di Indonesia kekurangan air sehingga saya ngak mandi ya! Saya ambil passport tersebut sambil mencium aroma di ketek saya, dan benar, ketek saya bau sekali. Tidak heran tadi dipesawat sepasang kakek nenek pindah bangkunya dari sebelah saya. karena saya bau. Untuk pesawat kosong sehingga bisa pindah. Kalau tidak penerbangan sekian jam membuatnya kebauan. Tadi dipesawat kok saya ngak kecium ya. Kalau sekarang wuiih,, asem!

Sambutan baru mendarat sudah bertemu dengan tekanan. Hujatan, dan ledekan. Dasar amerika belagu apa saya memang aneh?!!

Saya melangkah berjalan keluar sejalan dengan tanda exit mengarah. keluar dari SFX di bandara internasional san fransisco, tengah malam yang dingin di bulan mei menyambut saya dengan kaku. Saya tidak tau siapa-siapa. Saya tahu hanya tujuan kota kecil 30 miles dari kota besar San Fransisco bernama Artherton dimana kampus kecil bernama Menlo college berada.

Di genggaman saya ada tulisan secarik kertas nama kakak dari sahabat saya yang juga ber sekolah di San Fransisco yang mungkin bisa membantu saya bermalam barang sehari. Namun saya tidak tahu bagaimana cara menghubunginya. Keluar dari bandara, sepi. Saya tidak melihat hiruk pikuk traveler karena bisa dikatakan pesawat saya adalah last flight.

Saya sendirian berjalan gontai sambil celingukan membawa koper kecil. Isi baju hanya buat 3 hari. Dokumen administrasi. Dan sedikit dollar. Dan saya tidak tahu harus melakukan apa saat itu keluarnya dari bandara SFX.

Sebenarnya saya hampir menangis. Saya bingung, bisa dibayangkan saya saat itu hanya berusia 18 tahun lewat sedikit. Dari kampung, yang pindah kampung satu ke kampung lain, dari kota kecil masopati madiun, ke pujon batu malang, ke pendopo Palembang, ke gunung bakaran Balikpapan lalu ada di San Fransisco dimalam dingin kala itu.

Saya celingukan, tidak tau mau Tanya siapa. Petugas bandara tidak ada, polisi? ..saya malah tidak berani bertanya. Saya diam di ujung penantian tempat taxi yang juga telah sepi. Masih celingukan hingga ada 2 orang yang mendekati saya. saya agak sedikit takut, namun suara yang baritone menyapa berat membuat saya tenang, karena saya mengenal bahasanya. Bahasa Indonesia. Hei,,kamu wowiek ya! Demikian suara itu memanggil saya.

Saya menengok lalu 2 orang tersebut menyodori tangannya menjabat. Saya dino dan ini edy, sorry gw telat soalnya adik gw baru telpnya tadi sore kalo loe mau datang dan minta tolong jemputin.

Oalah..rasanya sulit dibayangkan. Saya terharu, senang, bersyukur, bingung semua tumplek blek jadi satu. Mata saya berkaca-kaca, sampai mas dino menenayakannya, Kenapa loe? Kok nangis..
Iya, saya takut mas. Maaf saya tadi bingung dan begitu mas datang, bener deh ini kayak bara disiram air dingin. Sangat melegakan dan sulit saya gantikan dengan apapun mudah-mudahan kata-kata terima kasih bisa mewakili..

Ah, biasa aja wiek, disini kita perantauan. Saling bantu sebisanya. Nanti juga sampai pada giliran loe. Just do your part. Demikian mas dino menjelaskan sambil jalan ke mobilnya. Mobil kecil merek VW keluaran beberapa tahun yang lalu. Namun terlihat gagah. Saya cukup kagum dengan mas dino ini. Yaitu kerendah hatiannya. Dia ngak kenal saya. dia di telp adiknya yang merupakan sahabat saya dan ternyata di laksanakan. Terima kasih brur.

Perjalanan singkat saya tidak terlalu memperhatikan jalan hingga tiba di sebuah apartemen yang tidak terlalu bagus dan kamipun berjalan ke basement di bawah. Wiek, kita ngak cukup uang, makanya kita tinggal bertiga di basement jorok ini. Gw, edy sama arman. Loe manfaatin ruang seadaanya ya. Sambil menunjuk ke sofa di dekat pintu dan benar ruang di basement tersebut kecil sekali.

Ada satu teman baru yang berada di rumah itu yang pendiam, arman. Dia hanya menunjukan ruang kamar mandi sambil berkata singkat, badan loe sudah 2 hari ngak mandi, sebaiknya loe mandi gih sana. Badan loe bau!

Saya pun segera merapihkan koper, membuka dan mengambil baju ganti. Saya pun mandi. Air hangat yang menyiram tubuh saya membuat badan saya menjadi segar, dan salah satu kebiasaan saya selagi mandi adalah..saya bernyanyi dengan suara fales dan cempleng lagu apa saja dan biasanya lagu-lagu tempo dulu. Waktu itu saya ingat sekali karena di kamar mandi tersebut saya menyanyikan lagu “senandung rindu” sambil mandi shower ..

ku nyanyikan lagu untukmu
lagu senandung rindu
lagu kenangan masa lalu
waktu kau masih disamping ku

bagi yang ingat lagu tersebut, nada suara lagu tersebut oktafnya makin lama makin naik not not nya perlahan. Bisa di bayangkan saya yang bersuara fales serta cempreng seperti kaleng rombeng nyanyi full trotle gigi 5 gas pol. Menyanyikan kelanjutan bait lagu tersebut dengan nada meninggi..

LAGU INI LAGU KENANGAN YANG TAK..tiba-tiba terdengar suara di luar yang jauh lebih keras dari saya…SHUT THE F**K UP !!! hey man it’s 2 o clock in the morning, I need to sleep..YOU MORON!, agaknya tetangga atas rumah meledak emposinya mendengar suara nyanyi saya.

Saya pun terdiam kaget suasana langsung sunyi. Saya takut dan gundah, saya percepat mandi dan keluar dengan handuk.

Si mas Dino dengan nada suara di tahan berbicara menegur saya, eh..loe baru datang sebentar sudah bikin masalah. Wah bener-bener deh loe?! # The Saga Continue