Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Mardigu Wowiek: SAYA SEPERTI ANJING

Mardigu Wowiek: SAYA SEPERTI ANJING

Kamu enak mas team kamu seperti anjing semua lah saya, beda!! Sebuah perkataan yang membuat saya bingung karena tidak faham kalimat yang di bicarakan seorang teman saya yang sedang mengeluh akan bisnis nya bidang oil n gas yang rontok dalam 2 tahun terakhir.
Dia menceritakan bahwa dari sales selama 15 tahun ber bisnis distribusi peralatan perminyakan dimana dia memliki kapal dedicated untuk bisnis perminyakan akhirnya rontok juga 2 tahun ini. Dimana kemarin sore saya memenuhi undangan perayaan acara ulang tahun ke 17 perusahaan pegawai tinggal 15 dari 150 pegawai dalam 2 tahun terakhir.
Sama dengan keluhan pengusaha lainnya di bidang oil n gas dimana kebijakan pemerintah saat ini jelas-jelasan tidak memihak swasta nasional, ya orang seperti kami, rontok semua.
Bukan oil n gas nya yang saya mau bicarakan, pemerintahan ini memang tidak pro swasta menengah kok, ngak faham pemutar roda ekonomi kelas menengah, entah itu darmin, entah itu mega bintang menkeu apa lagi rinso sama LBP, waduh, jauh panggang dari api buat meningkatkan ekonomi kelas menengah swasta nasional, males sudah saya ngomong.
Yang saya mau bicarakan istilah team saya seperti “anjing” ini perlu penjelasan.
Sebentar mas, saya belum bisa move on dari berfikir kenapa team saya di bilang seperti anjing?!. Demikian saya memerlukan penjelasan.
Orang dihadapan saya ini bukan ahli manajemen, ini pengusaha kawakan oil n gas. bidangnya tajam dan unik, Cuma 3 perusahaan seperti dia di indonenesia. Jadi istilah “anjing” ini saya perlu penjelasan.
Begini mas, dia berkata kepada saya. team saya , banyak saya ambil dari kampung halaman saya di ngayogjakarto hadiningrat. Saya sudah bergenerasi disana. Pegawai saya semua orang jogja. Karena saya kenal sekali tabiatnya. Say atahu mengendalikannya, me-manage nya.
Mereka seperti sapi, kebanyakan sifat orang jogja kalau bekerja seperti sapi. Beda banget dengan team anda mas (dia menunjuk kesaya), seperti anjing sifatnya.
Mendengar kalimat itu saya melipat alis. Opo maneh iki ?
Dia melanjutkan, begini mas, sifat pekerja seperti sapi itu begini, sapi itu ngak mau di naikin, ngak mau di kendarai. Mereka kalau maju harus di tarik hidungnya. Di cocok hidungnya dan di tarik. Di kasih makan, di kasih kandang , di rawat dan kerja harus di tarik tarik.
Karena itu saya sebagai pengangong harus menarik terus mereka. Sekali berhenti menarik, mereka berhenti juga kerjanya. Karena itu UMR di jogja murah, tapi kalau ngak ada yang ngangon yang ngurusi, mereka diem saja. Jangan harap bekerja cepat, slow. Harus di tarik lagi, di manja lagi. Kita pergi misalnya, mereka diem lagi, slow, santai, jagongan. Datang lagi bossnya, di kasih makan, di tarik lagi, kerja lagi.
Karena dalam bisnis saya perduli pada biaya murah, wong yogjo cocok, kayak aku ini, katanya dengan bangga ke jogja an nya. Lah anjing? Saya tanya
Iya mas, saya perhatikan lama, team mu itu kayak anjing semua. Di lempar tulang, di kejar. Di lempar bola di kejar. Pokoknya bonus besar, kerjaan sulit di terjang, bahkan ngak ada sampeyan mereka kejar dan kerjakan, pokoknya duit gede, bonus gede, apa saja di uber, dikerjakan.
Dia melanjutkan, Lah type sapi? Percuma di kasih fasilitas, bonus gede , tetep ngak jalan cepet mereka. Di tarik di openi di urusi kebutuhan dasar, sudah cukup. Karena itu murah mengelola sifat sapi kalau tahu “mengelolanya”. Lah yogjo…
Dia menambahkan, saya mending sapi loh mas bener, type anjing saya ngak berani aja. Kalau sampeyan memang secara pribadi type-nya anjing juga makanya pasukannya podo haus darahnya. Jadi type anjing saya ngak bisa kelola, Apa lagi type kuda wuuihh saya ngak bisa, dan saya paling males saya adalah type perkutut..beeeeehhh, atret-mundur saya.
Sebentar kang mas, itu type kuda sama perkutut bagaimana lagi maksudnya?
Dia kemudian menceritakan panjang lebar beserta contoh bisnis dan perilaku menarik dua type ini.dalam hati saya komentar, seru seru..jurus baru bagi saya ini!!. eh..ngomong-ngomong memnag pada minat tahu type 2 lagi tadi, “kuda sama perkutut”?

Mantan Itu Alumni Hati

Apapun yang datang ke kamu saat ini, adalah kamu yang menariknya! Kamu yang dengan sengaja mendatangkannya. Kalau kamu menganggap ini kesialan, sial itu kamu yang membuatnya. Kalau kamu menganggap semua ini adalah nasib buruk, perbuatan itu kamu yang menyebabkannya

Kalau kamu susah saat ini, itu pilihan kamu sendiri!

Apa yang kamu ulangi dalam pikiran itulah yang akan menarikmu. Kamu sebel sama kecoa, kamu jijik dengan kecoa, kamu ulang-ulangi berkata takut kecoa dan mengingat-ingat terus akan kecoa. Entah bagaimana tahu-tahu dimana saja kamu ketemu kecoa. Kecoa itu seakan kamu tarik dengan pikiran kamu untuk mendekatimu.

Apa yang kamu takuti, apa yang kamu senangi itu akan mengulang dalam pikiran, hal itu akan “looping” berputar dalam diri kamu dan itulah menjadi magnet penarik atau transmitter pemancar pencari. Yang kamu ulangi tersering adalah “magnetic field” medan magnit. Semakin diulang kumparannya semakin banyak dan magnitnya semakin besar. Pengaruhnya semakin besar.

Inilah kalimat yang diberikan oleh mentor saya Geoff di saat otak saya sudah tidak bisa berfikir lagi menyaksikan perjalan hidup yang itu-itu saja 15 tahun lalu, tidak berubah membaik, malah dahulu setiap gerakan seakan masuk kepasir isap. Semakin banyak bergerak semakin tersedot. Sementara diam diri , juga tenggelam.

Hingga akhirnya berdiri seorang mentor yang berbicara lugas, tegas bahkan keras. “you are a looser, aren’t tired of it! ” kamu itu pecundang, kok ngak cape sih jadi pecundang!. Ayo berubah! Dan kalimat di atas itu mengiang pagi ini dalam otak kecil saya ketika partner bisnis saya melaporkan apa rencana kerjanya di tahun depan 2016.

Ujug-ujug dia melaporkan sesuatu yang dia sudah kerjakan 90% dan minta bantuan saya selanjutnya. Lah kok enak yah…yah demikianlah kalau punya partner yang kenalanya lebih dari 25 tahun. Kalimatnya santai, gw khan tahu mas wowiek!..tapi, memang ada benarnya. Dia cukup tahu saya.

Yang datang kesaya hari ini adalah….elite model looks!

Bayangkan, saya tidak punya pengetahuan seujung jari tentang dunia model, fashion, fotografi, advertising, dan sejenisnya mendadak datang kesaya dengan status “milik”, dan menjadikan indonesia negara ke 61 atas franchise bisnis ELITE MODEL LOOKS.

FRONTLINE membeli franchise Eliete Model looks! Dan informasi ini mengingatkan saya ke kalimat di atas? Ini apa saya yang menariknya? Kapan saya menariknya? Bagaimana saya menariknya? Kapan saya mengingat , melamun berfikir tentang models?

Dari pada mencari data yang hanya memuasi sisi kecil diri lebih baik melihat kedepan. Mau di apain ya?

Elite models memiliki 2000 super model, world class models. Misalnya seorang Claudia schiffer atau Gisele bundchen dibayar sebagai brand ambasasor sebuah product high fashion seperti make up atau fragrance jutaan dolar pertahun. Elite models adalah agen mereka. Bayangkan sebuah agency models kelas dunia ini betapa dahsyat nya pengaruhnya didunia bisnis, terutama fashion life style.

Sebagai agen maka elite memperoleh cuts bagiannya. Namun yang terbanyak tetap sang models. dan sekarang hadir di Indonesia. Wajah asia, oriental, polinesian, melayu ini khas. Sehingga produk internasional tidak akan memasang Kate Moss yang blond pirang dan blue eyes mata biru lagi di sudut produk kecantikan di asia atau di Indonesia karena ngak match, ngak cucok kata anak gaul.


Internasional brand mencari models local. Mewakili bangsanya. Beauty peageon memang sudah banyak, komnes kecantikan memang banyak di Indonesia saat ini, namun elite models beda. Diffensiasinya jelas, focus di wajah dan ekspresi.

Kemampuan sang models meng ekspresikan wajah sedih, gembira, nyinyir, bragging menyombong, snop belagu, humble rendah hati, sendu, meratap, sinikal, satire, terbahak, kagum, berfikir, mengamati, menatap, melamun, benci, murka, marah, pasrah, sensual, erotic, semua ada ekspresinya dan inilah kelebihan elite models dan inilah yang dibutuhkan seroang yang menjadi brand ambassador sembuah produk. Citra dirinya harus clean clear, profile nya up class, ekspresinya “bermain”.

Ini mungkin yang menjadi asal muasal datang eleite models kesaya ya. Karena ‘ekspresi” seakan menjadi domain atau hagemoninya serorang mardigu ( asumsi loh..hehe)

Sahabat mungkin memiliki banyak calon world class model dalam lingkar perduli anda. Bisa keponakan, tetangga, saudara sedarah, anak atau siapapun. Lihat kemampuan ekspresinya di foto selfienya. Kalau ekspresinya hanya satu itu-itu saja seperti memoyongkan bibir agar pipi terlihat tirus. Dia kurang gaya hahaha. Ajari berbagai ekspresi dan kemudian kirim fotonya ke elite models!

Lalu, apa sih maksud tulisan saya pagi ini? . kami berencana pada hari Kamis besok 10 desember 2015 jam 14 bersama mitra frontline akan meluangkan waktu sedikit untuk para sahabat.

Yuk ketemuan di sebuah kafe kecil di bilangan senayan. Namanya chill café, di lantai G di atas MC Donald di STC senayan. Kita diskusi ringan. Gratis kok. Kalau mau pesen makan atau minum bayar sendiri ya..ngak pesen juga tidak apa-apa, yang penting kita bisa bertemu silaturahim. Itu tujuannya.

Dan percaya deh, ada rezeki di setiap silaturahmi. Apa itu? Seperti apa? kita diskusi ringan dan sebentar. Hanya dua jam waktu tersedia, dari jam 14-16 saja. Minat? Luangkan waktu sebentar dan sampai bertemu kamis 10 desember 2015. kirim nama ke inbox saya buat reservasinya # may peace be upon us

Jatuh Cinta Pakai Perasaan, Mempertahankannya Pakai Penghasilan

Apa buktinya kalau mau menjadi kaya bisa tanpa jadi pengusaha? Bisa mengerjakan apa saja sesuai profesinya namun tetap bisa kaya raya. Ini adalah diskusi panel yang dihadiri ratusan mahasiswa sebuah kota pelajar di jawa timur di mana saya di minta sebagai salah satu tamu undangan.

Minggu lalu di terbatasnya waktu dalam kunjungan rutin kerjaan di wilayah jawa timur, sekalian memanfaatkan undangan sebagai pembicara singkat dalam diskusi kewirausahaan di sebuah kampus kota pelajar yang berjarak 1 jam dari basis pekerjaan kami di pasuruan. Saya pun setuju. Host acara pagi itu seorang penyiar radio juga yang saya beberapa kali menjadi tamu narasumber acaranya. Jadi jalannya pertanyaan seakan siaran ulangan.

Pertanyaan ini mungkin juga ditanyakan banyak orang, karena bekerja kantoran memiliki income yang “ketaker” terukur sementara sebagai pengusaha pendapatannya bisa tidak terukur, dengan disisi paradox nya bisa juga minus. Dalam kondisi minus maka mereka professional yang memiliki penghasilan stabil membuat iri pewirausaha.

Pewirausaha terkadang iri dengan banyaknya waktu para professional itu bisa luangkan buat diri mereka dan keluarga mereka.

Coba bayangkan di hari sabtu atau minggu. Banyak professional dan kaum pekerja yang menikmati weekend liburan makan di mall, di restorant, bercengkaram dengan keluarga, teman dan lain sebagainya sementara pemilik restaurant, atau warung malah sedang berkeringat siang malam bekerja.

Wirausaha seakan tidak punya tanggalan merah atau hari libur. Seakan tidak punya batas waktu 24 jam. Atur-atur sendiri. Bagi sebagian orang itu kebebasan waktu, bagi sebagian pewirausaha lagi hal itu merupakan tanggalan biru kerja terus menerus tanpa jeda.

Jujur, kalau mereka yang pekerja melihat kebebasan waktu , bagi pewirausaha, itu jebakan. Itu bisa merupakan siksaan pekerjaan jangka panjang. Dan kalau pengusaha belum merasakan siksaan kerja tanpa jeda maka hanya 2 hal pastinya mereka itu.

Pengusaha yang baru mulai atau pengusaha yang tidak bisa mengelola waktu dengan baik juga tidak bisa mengelola team dengan baik.

Lalu dimana seorang wowiek berada ? Yaitu tadi, pengusaha yang masih struggle untuk bisa mengelola waktu dan mengelola team dengan benar. Sehubungan dengan hal itulah saya selalu sempit waktunya. Berbagi seperti acara minggu lalu adalah hal yang menfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Harusnya tidak begitu kalau saya pandai mengelola waktu dan pandai meng-kader team.

Jadi, menjawab pertanyaan host acara tersebut tentangbagaimana menjadi kaya tanpa jadi pengusaha, atau menjadi kaya dengan tetap seperti apa adanya bagaimana?

Apakah jawabnya klise hanya pengandaian dengan memiliki medan magnet nanti uang datang, gitu?
Apakah kita harus bervisual, berimaginasi sukses terus kita kaya, gitu?

Apakah kita bersedekah terus kita di beri oleh kehidupan balasan dan jadi makmur. begitu?

Jawaban diatas atau banyak hal yangmirip diatas ada benarnya. Tapi tidak melulu hal itu. Bagi orang seperti saya , saya adalah orang yang memiliki pendapat lain yang di dapar dari pahit manisnya menjalani usaha.

Maka salah satu caranya adalah menambah jam kerja kita, “work extra miles”. Sesuai dengan hukum alam. Kalau seorang hidup semua di karuniai 24 jam. Semua sama. Lalu kita mendedikasikan 10 jam hidup kita untuk bekerja. Katakan dalam 1 bulan anda mendapatkan angka 10 juta rupiah. Maka untuk mendapatkan 15 juta, atau 5 juta ekstra anda harus bekerja “extra”.

Kedengarannya tidak menyenangkan bukan? Tapi itu adalah hukum alam.

Katakan anda adalah pegawai swasta, bekerja sebagai akunting. Lalu extra miles nya apa? anda nyambi kerja tambahan dengan menjadi tenaga akunting pada warung-warung di dekat rumah anda. Tiap minggu anda ambil seluruh bon transaksi penjualan dan pembelian. Lalu ada buatkan laporan keuangan bulanan.

Anda di bayar 1 juta per warung. Karena banyak yang sanggup membayar 1 juta perbulan. Namun mmebayar akuntan 5-6 juta perbulan mereka ngak sanggup. Dan, ada 5 warung mempercayai anda. Anda memanfaatkan sabtu minggu buat laporan keuangan tersebut. Itulah 5 juta rupiah ekstra mile anda.

Suatu hari warung, toko kelontong, laverensir pasir, toko bangunan mempercayai anda dari mulut kemulut. Ada 40 mitra yang mempercayai anda pembukuanya. Maka itu adalah 40 juta extra mile anda. Kalau anda kerjakan sendiri.

Lalu anda putusakan mempunya 2 asisten akunting yang junior masing masing anda bayar 5 juta, maka anda dengan tanpa kerja terlalu detail dank eras anda mulai mendapatkan ekstra mile anda menjadi mendapatkan 30 juta dari waktu yang anda “manage” dan “distibusi” pekerjaan.

Jadi kesimpulan apa yang di tarik dari jurus sederhana menjadi kaya? Salah satunya adalah menggeser “centralized income” menjadi “distributed income”. Dilain kesempatan kita tambah lagi penjelasanya. # may peace be upon us

Kehadiran Seseorang Dalam Kehidupan Anda Selalu Ada Dua Maksud. Satu Sebagai Berkah, Satu Lagi Sebagai Pelajaran

Dalam menjalani kehidupan setiap harinya maka kita akan berhadapan dengan kenyataan bahwa sebagian waktu kita, kita manfaatkan untuk mencari rezeki, mencari uang dan memanfaatkan uang. Jika ternyata kita salah saja dalam strategi mengelola kemakmuran maka seumur hidup kita bisa menjadi budak uang. Slave of money.

Padahal untuk mendapatkan uang semua orang tahu. Hanya ada 3 cara membuat uang. Tentu ini diluar mendapat warisan terlahir dari keluarga kaya, menikah dengan orang kaya, menang lotere. Pasti diluar hal-hal yang “given” seperti ini.

Kita lebih memfokuskan berbicara yang “man made”. Yang seperti seharusnya dan biasanya terjadi. Yang umum-umum saja kita bicaranya.

Mendapatkan uang hanya dari bekerja (pada orang lain), berbisnis dan berinvestasi. Hanya itu 3 jalan utama.

Bekerja adalah menukar waktu anda, ilmu anda , ketrampilan anda dengan uang yang diberikan oleh perusahaan atau pemilik usaha. Jika anda merasa setimpal pendapatan anda dengan pertukaran ilmu, ketrampilan dan waktu anda, maka anda menjadi seorang yang nyaman posisinya. 

Walaupun anda tahu suatu saat anda tua, suatu saat “fresh legs” masuk, suatu saat anda menjadi “Liabilities” atau beban bagi perusahaan dan suatu saat mereka bisa saja mengatakan “terima kasih atas jasa yang anda berikan”.

Selama anda masih menjadi asset perusahaan, dimana tenaga anda, waktu anda, ketrampilan anda masih menghasilkan rekening “plus” bagi perusahaan atau organisasi, maka anda masih dianggap masuk sisi asset dalam neraca pembukuan perusahaan.

Inilah diskusi ringan disaat saya berjumpa sahabat lama saya. kami tidak saling jumpa cukup lama, 3 tahun terakhir kami tak ada kabar. Hingga minggu lalu saya mendapat telfon dari nomor yang tidak tercatat namanya dalam list telfon saya..eh, wok ( itu kebiasaan dia memanggil nama saya dengan nama depan wow, yang di wok khan)..apa kabar anak gue?

Itu adalah kalimat dia jika menanyakan sesuatu tentang anak tertua saya mbak azka. Eh baik. Sangat baik. Saya jawab dengan cepat. Apa kabar Nan..? saya bertanya balik kabarnya dan dia bukannya membalas malah tetap bertanya..eh anak gue dimana kuliah dimana?

Dia mengatakan “anak gue” karena memang anak saya pertama dia yang memberi nama. Sahabat saya ini memiliki keunikan. Yaitu dia hafal al Quran. Hafal sampai ke index-index nya. Jadi kalau kita tanya, nan..ayat al Quran yang menyatakan tentang ber haji ada di surat apa saja dan ayat apa saja. Nah dia dengan sekejab bisa jawab. Di ayat ini, di surah ini-ini. sangat luar biasa, biasanya kalau orang hafal Quran hanya hafalan ayat, namun dia beda sampai ke index-indexnya hafal.

Jadi sewaktu 22 tahun yang lalu saya menanyakan sebuah nama untuk nama anak saya, dia bertanya kepada saya..kamu mau apa nama anaknya? Saya bilang karena nama adalah doa, setiap saya panggil nama anak harus memiliki arti, dan saya ingin yang ada hubungan dengan harta, kemakmuran. Jadi setiap memanggil nama anak saya mendoakan kemakmuran.

Dia langsung berkata , harta itu “mal”..dan kalau kita mau suci hartanya maka kita melakukan zakat mal. Maka kalau kita berharta maka namanya “malia” berarti harta. Dan karena kamu harus suci maka orang yang berzakat itu khan mensucikan diri. Perilaku mereka adalah zakiah, agar mereka termasuk orang yang tersuci. Tersuci adalah Azka.

Jadi nama baik buat anak itu nanti, yang jadi anak gue karena gue ikut kasih nama. Indexnya nya ada di ayat ini, dia pun mengurai semua ayat yang ada kata zakat dan mal. Sehingga nama “azka Malia” adalah nama yang diberikan olehnya kepada putri saya tertua itu.

Karena itu ketika dia mengatakan “apa kabar anak gue” dia merefer mbak azka pastinya. Sudah lulus kuliah D3 dia sekarang, mau lanjut S1. Saya menjawab pertanyaannya

Hah, ngak mungkin wok, amir aja masih tingkat 3 (amir adalah putera sulungnya) khan amir lebih tua 2 tahun dari azka, ah ngak mungkin..dia tidak percaya informasi itu. Yang dilanjutkan, azka lompat kelas ya wok? Tapi mungkin juga sih, amir 2 kali ngak naik kelas karena kesibukan ekstra kulikuler, jadi mungkin juga ya..wah..sudah tua kita ya. Kalimat itu membuat pecah tawa kami berdua.

Dan pertelefonan inilah yang membuat janji bertemu yang kurang dari 10 menit setelah telfon kami pun duduk satu meja makan siang karena posisinya dengan kantor saya hanya 300 meter. Dia makan siang di bilangan senopati dan teringat saya. jadi kita menyempatkan menyambung tali silaturahmi siang itu.

Kami bertemu menjadi bertiga, satu lagi adalah sahabat kami professional keturunan china yang malang melintang sebagai managing director sinar mas group. Dibawahnya ada lebih 30 CEO. Mulai dari kelapa sawit, property dan banyak lagi adalah unit usahanya. Kami bersahabat lama, sejak jaman PT smartindo produsen snack chiki, taro di tahun 1997 kami sudah menjadi skondan mitra bisnis bersama.

Saya juga lama tak bertemu dengan nya, dan diskusi makan siang kali ini adalah mendiskusikan pertumbuhan negative 2015 disemua lini bisnis. Dimana saya , sahabat saya dan professional sinar mas group ini mengalami hal yang sama. Pastinya saya yang paling berat karena basis bisnis saya property dan oil n gas.

Bisnis oil n gas turun sangat ekstrim. Kalau dunia pertambangan mineral dan batubara turunnya landai 5 tahun terakhir, kalau oil n gas, curam. Hanya dalam 2 tahun harga pasaran turun dari 100 dollar ke 40 dolar per barel (catan saat ini 30 dolar). Turun 60%. Tidak tutup perusahaan kami itu sudah hebat. Bisa bayar hutang adalah sebuah kemewahan. Direksi, komisaris gajih di tunda adalah bagian dari keharusan demi organisasi dengan 1000 karyawan tetap berdiri.

Sahabat saya sang managing sinar mas ini lah yang tadi bercerita tentang karyawan liabilities dan asset. Karena saya tahun lalu harus “lay off” banyak karyawan, dengan berat hati. Terpaksa berikan KPI, key performa indicators yang ketat yang memaksa banyak professional menjadi liabilities karena tidak bisa perform. Tapi itu bagian dari “survival”, saya mohon maaf harus saya lakukan.

Target sales dipaksa naik 20%, padahal pasar lagi melemah, bisa mencapai 80% saja sudah bagus. Ini harus 120%. Banyak yang mental pastinya. Memang keras hidup ini, dan itulah suka duka dunia professional. Dan ini kita sedang bicara “past tense” loh, hal yang sudah terjadi di tahun kemarin 2015.

Mendapat kesempatan bersama pakar keuangan dan managing director perusahaan besar saya tidak sia-siakan dengan pertanyaan berikut ini. Pak P, saya ingin menanyakan, saya tidak mau lagi mengulang apa yang saya lakukan di tahun 2015.

Walaupun saya harus melepaskan team, saya mau mereka memiliki ketrampilan lain. Mereka harus memiliki “multiple streaming of income”. Atau pendapatan dari banyak sumber. Saya akui saya salah. karena tidak menyiapkan hal itu. Bagaimana caranya?

Nah mas wowiek, kita ini sudah diusia segini ada baiknya memang mulai membicarakan keseimbangan spiritual. Memberikan mereka bekal adalah hal yang juga kami sudah lakukan di group kami. Jadi mereka bisa mendapatkan “multiple streaming of income”. Saya ini kan professional, bukan pemilik perusahaan. Pemiliknya ya Franky Wijaya, dan keluarganya. Saya hanya bekerja, namun saya atau kita tetap bisa makmur.

Dia lalu menceritakan tentang beberapa property rumah, hotel dan kebun yang dimilikinya. Yang dilanjutkan dengan pernyataannya : Jadi kunci pertama adalah bagaimana kita “memanfaatkan informasi”. Hidup bersama para “game changer” ini maka kita mendpatkan informasi awal. Kita harus pandai “riding the wave” naik di gelombang yang mereka ciptakan.

Sayapun tanpa jeda menulis setiap informasi yang keluar dari mulutnya siang itu. Dia pelaku bisnis dan dia mempraktekan ilmu itu. Dan dia juga berbagi dengan anak buahnya. Panjang dia menceritakan apa itu “ilmu” yang dimaksud. Bagaimana memanfaatkannya atau istilahnya : “how to swim with a shark without being eaten alive” bagaimana bisa berenang dengan hiu tanpa pernah dimakan hidup-hidup. Lalu dia mengurai apa itu asset ? menceritakan jenis asset yang dimaksud yang ternyata berbeda dengan pemahaman saya akan asset itu, seperti benda. bagaimana menfaatkan asset yang dimaksud?

Panjangnya informasi ini membuat saya berkata dalam hati. Ini saya sebagian sih sudah tahu kok ngak “ngeh” ya saya bisa di giniin. Kayaknya ditulis ngak bisa sebaik dengan bicara dan harus ada visual agar banyak sahabat lebih faham lagi.

Berlembar tulisan informasinya adalah rahasia terpendam yang sederhana ketika saya renungkan. Sayangnya lebih enak menggunakan verbal informasinya kali ini. Sebaik lisan pak P menerangkan. Ok, kapan kita bertemuan saja deh untuk menjelaskan ilmu kemakmuran sederhana ini. Tentunya bagi sahabat yang menyempatkan dan berminat. Saya tunggu.

Cinta Itu Sederhana. Jika Kamu Tak Bisa Membuatnya TERTAWA, Cukuplah Untuk Tidak Membuatnya TERLUKA

Diacara akhir tahun ada sebuah kebiasaan yang saya lakukan selama ini , yaitu mereview performa tahun berjalan. Dan melakukan strategi tahun di hadapan. Hal itu menjadi rutinitas yang di tahun ini saya merasa harus ada yang baru nih. Ada baiknya saya meluangkan waktu dengan pakarnya.

Bagi saya pakar tersebut harus lah orang yang jauh lebih pengalaman dari saya. harus lebih pintar dari saya. harus lebih membuktikan daripada saya. dan hal itu banyak. Banyak orang yang di atas saya walau usia terkadang lebih muda dari saya. namun saya ngak perduli, kalau belajar saya taat kepada siapa saja yang telah membuktikan, proven methods by the person. Metode terbukti oleh pengalam orang tersebut. Tidak pandang usia, pendidikan atau status. Saya akan taklit belajar.

Dihadapan saya saat ini adalah CEO muda dari perusahaan internasional. Jarang loh perusahaan internasional yang ternama di sebuah indoensia memberikan jabatan CEO atau country manajer kepada local, pribumi. Bisa di hitung jari.

Dan ketika anda bersama orang-orang high caliber seperti ini, anda akan merasakan getaran berbeda. Semangat antusiame yang berbeda, cara pandang dan isi kata bicara yang berbeda. Itu yang saya butuhkan.

Secara fisik mobilitas sang CEO adalah berkursi roda namun secara pkiran rasanya kapasitanya 2 kali orang kebanyakan. Saya sangat membutuhkan sisi kekuatan dari nya terutama masalah target tahun depan.

Saya buka dengan pertanyaan, anak buah seperti apa idaman anda mas?

Dia menjawab, ada banyak type anak buah dan yang saya paling suka adalah mereka yang mempunyai prinsip dan berani “stand up ” pada prinsipnya. Berani mengungkapan ke atasan dan berani menanggung resiko kalau salah.

Wah, itu jarang mas, saya menjawab cepat
Benar, itu juga yang menjadi alas an banyak perusahaan asing di Indonesia ragu dalam mengangkat leader orang Indonesia.

Kenapa gitu mas? Saya bertanya

Ini pertanyaan saya di perusahaan saya dulu kepada atasan saya di kantor pusat. Dan pendapat orang di kantor pusat jawabanya adalah, jarang sekali follower (bawahan) di kita ini mas yang berani berpendapat. Kebanyakan yes sir, yes mam. Kalaupun berpendapat , informasi yang mereka berikan sangat dangkal. Itu menunjukan mereka tidak cukup “belajar” atau tidak mencari data lebih lengkap lagi.

Curiosity keingintahuan membawa ke kreatifan. Kreatif membawa solusi. Curiosity adalah pergolakan dalam pikiran atas masalah yang terjadi. Masalah di baca dalam diri seseroang karena perduli. Empaty adalah awal problem solver.

Kurang empati kurang perduli
Kurang perduli tidak kontemplasi
Tidak kontemplasi tidak ada keingintahuan
Tidak ingin tahu tidak kreatif

Inilah yang menjadi penghalang karir seseorang tidak sampai puncak, sebagai leader karena masalah mendasar ini. Dan hal ini bukan hal yang di dapat di kuliah atau bangku sekolah. Hal ini adalah private victory kemenangan pribadi setiap individu yang ingin maju.

Hubungan sama anak buah yang baik jadi apa mas? Saya berusaha mencerna bahasa tinggi yang di sampaikanya ini.

Begini mas, di jawabnya. Good doer atau pelaksana pekerjaan yang baik belum tentu good follower. Dan good follower pasti good leader.

Wah saya bingung mas? Saya berusaha mencerna bahan baru lagi

Begini deh, saya bicara pakai bahasa mas wowiek yang penggemar psikology terapan. Tahu Rosenthal effect?

Iya tahu, tentang ekspektasi tinggi atau pengaharapan tinggi, saya pun menjawab sambil mengingat-ingat pelajaran kampus di dunia psikologi social Robert Rosenthal yang nyaris hilang dalam pikiran saya kalau tidak di looping barusan.

Apa yang mas inget? Tanyanya lagi

Rosenthal buat study di 3 kelas yang diajarkan olehnya, kata saya memulai cerita yang saya tahu dan mudah-mudahan itu yang dia maksud.

Kelas pertama dikatakan di awal semester bahwa mereka orang pilihan. Mereka orang yang telah di seleksi dan terbaik. Biasanya prestasi tahun-tahun sebelumnya kela sini selalu mendapt A nilainya.
Di kelas satunya Rosenthal mengatakan inilah kelas yang tersisa dari kelas terbaik. Kelas ini adalah kelas yang rata-rata. Kemudian di kelas terakhir Rosenthal tidak mengatakan apapun.

Padahal ketiga kelas tersebut berisi orang yang sama dan dipilih secara acak. Pelajaran semesteran berjalan sama dan ujian pun isinya sama. Namun sepanjang semester Rosenthal selalu mengulangi siapa mereka dan hanya kelas pertama dan kedua di berikan ekspektasi.

Hasil di ujung semester bisa di duga. Kelas pertama semuanya nilai A, kelas berikutnya hanya rata-rata dan kelas terakhir banyak yang F atau gagal. Demikian saya menceritakan ulang sedikit Rosenthal effek.

Benar mas. Itu yang saya maksud. Nah, good doer, kalau di kasih 100% target biasanya mencapai 80% atau 100% target. Namun good doer jika di kasih 120% target biasanya tidak tercapai karena mereka menganggap diri mereka hanya “pelaksana”.

Good follower jika diberikan 150% bisa mencapainya. Karena mereka saya berikan rosentahal efek seperti dikelas pertama Robert Rosenthal.


Saya heran : kenapa ngak good doer di berikan rosenthal efek pertama juga? Saya masih belum bisa faham

Begini mas, saya membedakan good doer dengan good follower itu begini..namun sebelumnya saya mau nanya mas wowiek, menurut mas rosenthal effect bisa berlaku sebaliknya ngak?

Maksudnya? Saya bertanya karena ngak faham

Kalau anak buah di kasih pengharap tinggi high expectation dan dikatakan mereka orang pilihan hasilnya excellent. Apakah kalau atasan di berikan pengharapan tinggi oleh bawahan hasilnya sama, akan excellent juga?

Saya terdiam, ini kasus menarik dan tidak bisa di jawab dengan asumsi harus pakai empiris, harus pakai study harus pakai eksperimen. Menarik! Itu berulang kali di pikiran saya, ini bisa tesis doctoral. Apakah Rosenthal effect bisa berlaku vice versa sebaliknya atau malah tidak jalan?

Saya geleng-geleng kepala. Saya tidak bisa tahu, itu jawaban saya.

Dijawab olehnya, mas..rosenthal effect ketika di balik hasilnya dua tiga kali lipat lebih efektif lagi. Anak buah menyemangati dan memberikan ekspektasi tinggi ke atasan . dan bagi saya itulah good follower. Kalau good doer, mereka harus kita Rosenthal khan. Kalau good follower mereka kita rosenthalkan dan mereka memberikan ke kita Rosenthal effect balik.

Saya mencerna semua diskusi pagi ini sambil mengunyah sarapan pagi dan secangkir teh hangat. Ditambah rosenthal effek! Inilah sarapan pagi yang bergizi bagi saya. saya akan ceritakan high ekspektasi ini kepada semua follower subordinate saya dan saya lihat adakah yang memberikan balik Rosenthal effect ke saya? sehingga saya tahu bahwa saya sudah memiliki leader? Semoga.. # may peace be upon us

Kita Tidak Bisa Memilih Kepada Siapa Kita Di Lahirkan, Namun Kita Tetap Bisa Memilih Dengan Siapa Kita DIBESARKAN

Mendengar kabar salah satu sahabat pebisnis menjadi orang nomor satu di sebuah asosiasi dagang terbesar di tanah air, dikepala saya ada dua hal saya pertanyakan. Yang satu adalah sebuah tugas berat menantinya 5 tahun kedepan apa strateginya? dan yang kedua apakah kaderisasi dalam bisnis nya sudah siap?

Setahu saya, dia walau memiliki banyak perusahaan dan anak usaha. Dia adalah orang yang yang membangun organisasi bisnis bercentrum pada dirinya. Istilah saya “i corporation”. Semua orang dibawah organisasinya dalam setiap tindakan harus atas sepengetahuan dirinya. Bahkan dalam hal sekecil apapun. Dia Raja kecil. baginya, anak buahnya hanya penyelesai apa yang dia mau atau apa yang dia rencanakan.

Kebiasaan nya ini membuat saya berfikir lagi. Akankah dia membawa asosiasi dagang sedetail dan se-control freak tersebut?

Lalu, entah angin apa yang membawa lamunan saya yang sedang mengantri di lantai dua di darmawangsa square hari itu, tiba-tiba mendapat sapaan dari belakang terdengar suara..kanjeng kangmas wowiek apa kabar?

Wah saya kaget juga mendengar suara yang sangat familiar tersebut. Dia mungkin bisa dikatakan orang no 3 bahkan nomor 2 atau bisa-bisa sudah jadi orang nomor 1 dalam jajaran holding pada organisasi bisnis sahabat saya yang baru saja mendapat mandate memimpin asosiasi dagang nasional tersebut.

Hari itu saya sedang mengantri untuk terapi sakit di pinggang saya karena salah gerak. Dan sahabat saya tersebut sedang akan membeli alat olah raga yang kebetulan sebelahan dengan tempat terapi saya. baru mendapat kabar dan baru mengucapkan selamat bertugas kepada sahabat saya, ternyata salah satu orang kepercayaannya 15 tahun terakhir atau juga tangan kanan nya ada tepat berdiri dibelakang saya. dan terjadilah dialog ini :

Mas, sudah siap organisasi di tinggalkan RP? Saya langsung tanyakan hal yang menjadi pikiran saya setelah sebelumnya kami berdua saling memberikan kabar singkat.

Lah ini mas, saya sudah menyusun roadmap kedepan tapi saya kok ngak berani mengutarakannya ya? Aku mbok di kasih suntikan jadi orang yang tegas gitu loh sama boss kita itu.

Saya tertawa, karena kata-kata "boss kita" ada benarnya karena kami berdua pernah kerja bareng di bawah boss tersebut, sahabat lama saya tersebut. Dia melanjutkan, perusahaan itu kayak di "kekepin" di ketiaknya mas. Apa saja harus lewat dia, apa saja harus mulai dari dia. Bener-bener top down. Full direction dan full control.

Dia sampai saat ini belum bisa melepas mempercayai team nya. Dia begitu takut jika tidak mengendalikan perusahaannya. Dia juga merasa tidak ada yang bisa menggantikan kemampuannya. Kenapa begitu ya mas?, dia berkomentar dan sekaligus bertanya kepada saya.

Juga dalam bisnis saya merasa dia mulai melakukan pengulangan cara lama dan pola bisnis lama padahal banyak hal baru yang dia segan melakukannya. Atau tidak mau melakukan terobosan baru. Jadi organisasi agak sedikit stagnan, hampir semuanya turun performanya. Dia melanjutkan sedikit komentarnya

Begitu ya mas? Apa sudah kena "Pygmalion syndrome" dia mas? Saya balik bertanya

Pygmalion syndrome iku opo kang mas? Sampean ini kakehan kebanyakan ilmu bisnis sampai saya ngak ngerti istilah Pygmalion iku , katanya dengan gaya solo halus khas kesehariannya.

saya pun mulai bercerita, Iya, ini sedikit hikayat yunani, ada seorang pematung kenamaan bernama Pygmalion. Suatu hari dia membuat patung wanita yang indah dari sebuah gading. Wanita cantik. Ternyata saking cantiknya dia jatuh cinta pada patung tersebut. Dia perhatikan, dia lihatin dia sempurnakan dan dia mintakan kepada dewa agar patung ini bisa hidup.

Pygmalion berdoa amat sangat hingga jagad dewa pun akhirnya menyetujui dan turunlah dewi aphrodite dalam sebuah malam persembahan dan menghidupkan patung indah tersebut menjadi wanita cantik bernama galatea. Dan mereka pun menikah.

Itu cerita singkatnya mas. Kata saya menutup dongeng yunani kuno tersebut.’

O, itu toh Pygmalion syndrome kangmas? Itu ilmu psikologi ya, tanyanya sambil mata berkhayal ngak tau kemana

Bukan, itu karangan saya saja mas, saya jawab sambil tertawa. Bagi saya itu hanya sebuah analogi agar saya bisa memahami sisi sebuah kasus sehingga dengan dongeng, cerita otak, saya bisa memvisualkan. Otak atau pikiran yang bekerja akan lebih gampang berjalan membuat solusi jika sudah terbentuk gambar. Dan dongeng adalah salah satu bentuk komunikasi pikiran yang mudah di cerna pikiran yang bisa membuat sebuah bayangan imaginasi.

Dengan saya asosiasikan peristiwa tadi dengan sebuah cerita Pygmalion dan galatea maka mudah bagi saya mencari solusinya. Itu jika di tanya loh

Jadi solusinya dengan organsasi kita yo opo kangmas? Galateanya si perusahaan bisnis dan posesif nya bos RP semua benar, semua ya bener, sindrom opo tadi, Pygmalion, ya pas sudah.

Seberapa dia berani merusak atau ”break pattern “ terhadap kebiasaan RP mas?

Wah saya ngak bisa bilang pasti. Kalau dalam terobosan bisnis dia jagonya, tapi kalau dalam kerajaan yang dibangunnya warna dan kebiasaan sama dalam 20 tahun ini. Ngak banyak berubah. Yang berubah di maneuver bisnisnya di luaran.

Faham saya, o begitu ya, saya menjawab sambil berfikir.

Tapi bener loh kangmas, saya perlu saran sampeyan sekarang ini.

Begini deh, saya kasih gambaran singkat kemampuan destructive itu harus di lakukan, break pattern itu penting. Ilustrasinya begini :

Sebenarnya salah satu tugas leaders , salah satu tugas utama pemimpin bisnis adalah MERUSAK bisnis.”

Ketika saya bicara seperti itu saya perhatikan wajah sahabat saya heran.

Dalam sebuah periode bisnis seperti sekarang yang serba cepat. Kemampuan adaptasi yang cepat. kini seorang pemimpin bisnis memang tak cukup lagi hanya piawai membangun bisnis, ia juga harus piawai “MERUSAK” bisnis. Steve Jobs piawai “merusak” Apple dari Apple 1.0 yang hampir bangkrut menjadi Apple 2.0 yang gagah perkasa dengan iPod, iPhone, atau App Store-nya. Di Indonesia kita punya Ignatius Jonan yang piawai “merusak” KAI 1.0 yang lelet menjadi KAI 2.0 yang gesit.

Ingat sahabat kita pak Emir Satar ex garuda. Yang di demo pramugari dalam 4 bulan pertamanya bekerja di garuda. Dia menebas salary cap para pramugari, di tahun ke tiga bekerja gajih mereka turun bukan naik. Dengan kata lain pak Emir ingin semua pramugari muda usia, fresh, segar.

Jumlah crew pesawat turun costnya. Lalu dia mempercepat ground handling di darat dengan mesin baru, mahal namun cepat sehinga delay time garuda nyaris nol. Dan membuat market share naik. Itu adalah seorang CEO yang memiliki kemampuan destructive.

Sebaliknya perusahaan-perusahaan yang dulu hebat seperti Kodak, GM, Nokia, atau Sony terus-menerus babak-belur mengalami kemunduran karena tak kunjung menemukan CEO yang mampu “merusak” fondasi model bisnis yang kini sudah tak relevan lagi.

Karena itu seorang CDO (“Chief Destruction Officer”) kini adalah sosok yang paling diburu perusahaan-perusahaan di seantero jagat raya. Jadi RP saya sarankan mencari seorang CEO yang memiliki kemampuan visoner mengadaptasi 20 tahun kedepan dengan tindakan nyata sekarang. Dan RP harus ikhlas dan memberi izin profesional membuat “sculpture” patung baru. Galatea baru. Dan jangan pernah jatuh cinta kepada karya sendiri. cinta boleh, jangan “jatuh”. Saya mendongeng lagi sambil berfilosofi.

Mau contoh lain lagi? Layanan surat pos “mati” dimakan killer app baru seperti email, SMS, dan ATM.
Kodak yang lebih seratus tahun perkasa kemudian “dihabisi” oleh layanan photo sharing yang diberikan perusahaan start-up anak kemarin sore seperti Instagram. Toko kaset legendaris Aquarius Mahakam di Blok M tutup “dibunuh” platform baru seperti iPod-App Store,menyedihkan?!.

Untuk bisa survive di tengah perubahan yang kaotik tersebut kuncinya terletak pada satu kata: “PENGHANCURAN”. Untuk sukses di era light-speed changes Kita tak boleh segan-segan menghancurkan sendi-sendi kesuksesan masa lalu kita: “break with the immediate past”. Kenapa? Karena barangkali formula dan sendi-sendi kesuksesan tersebut sudah tak relevan lagi sekarang.

Salah satu solusi Pygmalion syndrome harus diberikan obat penawar dengan membuat organisasi di pimpin professional baru yang memiliki kemampuan men-destruc dan meng-constuct baru. Memiliki kemampuan merusak semua yang tidak relevan dan membangun galatea baru yang sesuai jaman.
Emang ada orang dipasar yang available seperti itu mas? Tanya nya lagi.

Ada, kalau RP mau. Saya memberikan nama sahabat baik saya. seorang CEO handal, pernah di indosat, dan excelcomindo. Tamatan ITB Harvard business school. CEO caliber. Kalau saya hubungi pasti dia mau, setidaknya menjadi perhatian. Bagaimana? Ok mas, namaku di panggil aku tak masuk dulu terapi ya. Suwon, keep in touch kata saya sambil pamit, salaman dan bergerak masuk keruang terapi. # may peace be upon us